Menggugat Rasa Tidak Layak Perempuan dari Cekaman Validasi Lawan Jenis
Oleh: Sella Dwi Rahmawati
Jika saya mendapat pertanyaan, “Apa rasa syukur terbesar Anda menjadi perempuan?” kiranya jawaban saya adalah bersyukur untuk diberikan persen perasaan yang sangat tinggi. Ya, kita sudah tak asing lagi dengan kalimat yang mengatakan bahwa perempuan selalu mengedepankan perasaannya dibandingkan logikanya. Hal ini sejalan dengan studi dalam The Open Anatomy Journal (2010) yang menyebutkan bahwa jika laki-laki cenderung menggunakan satu sisi otak, perempuan justru mengaktifkan kedua sisinya sehingga jauh lebih sensitif dalam menangkap pesan emosional. Namun, terkadang, kita sebagai perempuan mungkin merasa sanksi karena dianggap jarang menggunakan logika untuk membuat suatu keputusan melainkan hanya mementingkan sisi emosional saja. Kita merasa bahwa sudah melibatkan logika berpikir dalam menyelesaikan permasalahan, menyikapi keadaan dan bahkan dalam mengatasi diri sendiri. Akan tetapi, sadar atau tidak, kalimat yang saya susun sebelumnya masih saja menggunakan perasaan melalui diksi “merasa,” kan?
Tidak, tidak ada yang salah akan hal tersebut. Bagi saya, dan mungkin sebagian perempuan di luar sana, perasaan menjadi anugerah terbaik yang diberikan oleh Tuhan. Saya yakin bahwa perasaan yang dimiliki perempuan ini tidak perlu lagi didebatkan kekuatannya. Meskipun terdengar personal, hal ini menjadi suatu aset tersendiri dalam melindungi para perempuan dari segala hal yang mungkin berbahaya baginya. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kepekaan rasa ini juga dapat mendorong perempuan satu langkah lebih dekat dengan jurang luka. Tak sedikit perempuan yang terjebak pada perasaannya sendiri dan tidak beranjak dari hal tersebut untuk sejenak berpikir lebih logis. Jika hal ini terus menerus terjadi tanpa ada rantai pemutus yang tepat, kehilangan diri sendiri menjadi bayaran yang tidak mustahil untuk didapatkannya. Salah satu jenis perasaan yang menyebabkan hal ini terjadi adalah rasa tidak cukup dan rasa tidak layak.
Sebagai perempuan, tidak jarang bagi kita merasa tertinggal, kurang atau belum cukup layak walaupun sudah berusaha keras untuk melakukan yang terbaik. Ironisnya, rasa tidak layak ini sering kali berakar dari hal sekecil tidak adanya atensi dari lawan jenis. Bukan, kita tidak akan membahas melulu soal romantisme drama percintaan seperti rindu tak tersampaikan atau kesedihan karena tidak memiliki pasangan. Lebih jauh lagi, bahwa tanpa disadari, perempuan seringkali menjadikan ketertarikan lelaki sebagai parameter nilai eksistensinya. Ketika tidak ada satupun laki-laki yang menunjukkan ketertarikan, kepekaan perasaan perempuan tak jarang menjurus ke arah yang keliru dengan spekulasi liar yang menurunkan kepercayaan dirinya sendiri. Hati dan pikiran tanpa dapat dikontrol akan berbisik jahat “Jika aku tidak menarik bagi mereka, maka aku tidak layak untuk apapun di dunia ini.
Lalu apa yang membuat hal ini menjerumuskan perempuan pada ancaman mengerikan akan kehilangan dirinya sendiri? Tentu, rasa tidak layak menjadikannya kecil dan tidak pernah cukup, atas segala upayanya, atas segala pengorbanannya, atas segala usahanya. Lebih parahnya, fase ini dapat mengantarkan perempuan pada penolakan diri sendiri. Diri yang tidak dapat menarik bagi lawan jenis itu diasumsikan sebagai diri yang tidak dapat menarik segala hal di luar sana. Mengapa kita bisa sekejam itu pada diri sendiri? Sejak kecil, perempuan sering kali dikondisikan untuk melihat dirinya melalui sudut pandang orang lain, khususnya laki-laki. Keberhasilan menjadi seorang perempuan sesungguhnya terkesan baru dapat divalidasi dari kekaguman lawan jenis. Misalnya ketika seorang perempuan berhasil mendapatkan pencapaian akademik yang tinggi, pujian yang datang sering kali diiringi dengan kalimat candaan “Keren banget, tapi jangan terlalu pintar, nanti cowok-cowok bisa minder, lho.” atau sebaliknya jika perempuan dengan paras yang memikat para laki-laki kurang memiliki pencapaian akademik, orang-orang akan mengeluarkan kalimat penenang “Ah, nggak apa-apa, yang penting kan cantik, nanti juga ada yang menafkahi.
Standarisasi ini perlahan telah meracuni alam bawah sadar kita bahwa segala keberhasilan yang kita capai tidak menjadi hal yang bermakna jika ujungnya kita tidak mendapatkan atensi dan persetujuan dari lawan jenis. Usaha yang keras memang perlu, namun perhatian laki-laki seolah menjadi tolak ukur tersendiri yang membuktikan eksistensi dan pencapaian seorang perempuan. Kita cenderung sibuk memikirkan mengapa ketidakhadiran atensi tersebut terjadi alih-alih menghargai proses dan berterima kasih pada diri sendiri atas upaya serta kerja keras yang telah dilakukan. Maka, sudah seharusnya kepekaan perasaan sebagai anugerah terbaik dari Tuhan ini kita kembalikan ke fitrahnya sebagai tameng pelindung dan ruang empati yang hangat, bukannya malah menjadi jangkar yang menenggelamkan logika hingga kita tega untuk menolak diri sendiri. Sejatinya, kelayakan seorang perempuan untuk hidup, bermimpi, berdaya dan berbahagia adalah hak mutlak yang sifatnya mandiri dan tidak terikat pada ketertarikan lawan jenis. Esensi menjadi perempuan hebat bukanlah tentang seberapa banyak atensi yang berhasil kita tuai namun tentang seberapa banyak kita merangkul, menghargai dan merayakan utuhnya diri kita sendiri.

Gabung dalam percakapan