Apakah Benar Kartini adalah Ikon Perempuan Indonesia? Tanggapan Untuk Ayu Lestari


Oleh: Suhadi, M.Pd

Guru Sosiologi SMAN 1 Jakenan

Esai ini saya tulis untuk merespon tulisan Ayu Lestari yang berjudul: Membaca Ulang Pergerakan Kartini. Saya menulis ini saat sedang di depan teras, sembari momong si kecil main air, karena ibunya sedang wisata di Tawangmangu bersama teman-temannya.

Sejauh mata memandang, tak banyak ruang tamu masyarakat Rembang memajang figura foto Kartini. Bahkan sangat jarang dan hampir sulit ditemukan. Kartini hanyalah alat produksi politik etis pascakolonial yang harus memikul berat tuduhan bahwa penjajah menjalan perannya mendidik dan mencerdaskan masyarakat jajahannya. 

Bagaimana mungkin, Kartini menjadi ikon perspektif baru yg menawarkan konsep  manusia seutuhnya, sedangkan pada saat yang sama, ia hidup dibawah  ketiak pejabat Belanda yang makan dan minum hasil dari jarahan keringat rakyat yg ditindas paksa. 

Sekali lagi, dimasa itu, perempuan pada umumnya tidak memiliki akses literasi teks bilingual dan otoritas sumber literasi global. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak ada akses dan tertutup. Adapun Kartini memiliki segala akses pengetahuan tersebut. 

Saat dirumah, Kartini hampir tidak pernah keluar keringat karena di dalam rumahnya terdapat deretan pembantu. Sungguh lucu ketika Kartini memilki catatan hutang jahitan baju, sedangkan ia adalah istri bupati dengan stok busana yang siap pakai di lemari. Dan sungguh lucu, ketika ia menjadi pelopor gerakan menanam akar rempah dan memasak, sedangkan di rumahnya lengkap dengan paket tukang kebun dan juru masaknya.

Menagih harapan kepada Kartini yang memiliki akses di atas rata-rata dari perempuan Jawa saat itu. tentang memerdekakan kaumnya, adalah hal wajar. Walaupun kemudian, Kartini sendiri tidak mampu mewujudkan. 

Catatan Ayu Lestari dari pentas panggung sebuah event peringatan hari lahir Kartini perlu kita apresiasi. Namun catatan pentas panggung sebaiknya dikritisi naskahnya terlebih dahulu, sebelum ditafsir dengan aroma konflik fungsional yang memilihak. Ayu lestari juga harus lebih kritis saat menawarkan isu baru. Jangan kemudian kebaruan tafsir itu akan lebih menenggelamkan gerakan feminisme postkolonial. Alih-alih mendongkrak visi manusia seutuhnya, jangan kemudian malah  memperparah gerakan domestifikasi peran perempuan yang jauh dari gerakan emansipasi dalam memajukan negeri ini.

Hal isu yang perlu diproduksi Ayu Lestari adalah hilangnya nyawa kartini, tidak tertolong saat melahirkan anak tercinta. Istri seorang bupati saja nyawanya bisa melayang, apalagi istri rayat jelata. Inilah yang sungguh dikawatirkan isu gerakan feminisme di kawasan negara-negara bekas jajahan. Mereka bereproduksi bersimulakra menutupi dosa di tanah jajahannya. 

Salam hormat untukk Ayu Lestari.