Membaca Ulang Pergerakan Kartini

Oleh: Ayu Lestari

Founder Daily Sastra Rembang

Di tengah arus besar penulisan sejarah yang kerap menempatkan Raden Ajeng Kartini dalam bingkai emansipasi perempuan semata, sejumlah pegiat budaya mencoba menawarkan sudut pandang berbeda. Salah satunya adalah Daryono, yang melalui pementasan Kartini di Pendopo pada 2016–2017, berupaya mengajak publik melihat Kartini secara lebih kritis dan luas, melampaui tafsir postkolonial yang selama ini dominan.

Menurutnya, banyak sejarawan terjebak dalam kategorisasi sempit: apakah Kartini seorang pejuang pra-kolonial, atau bahkan sosialis. Padahal, jika ditelusuri melalui jejak konkret dari sebuah arsitektur rumah, benda peninggalan, hingga korespondensi—Kartini justru menghadirkan gagasan yang melampaui sekat-sekat identitas tersebut.

Gagasan Kartini tentang Manusia Seutuhnya

Kartini kerap dilabeli sebagai tokoh emansipasi perempuan. Namun, dalam pembacaan yang lebih mendalam, ia tidak semata memperjuangkan perempuan sebagai kelompok, melainkan manusia secara utuh—tanpa batasan etnis, agama, maupun kebangsaan.

Dalam sejumlah suratnya, Kartini menegaskan keinginannya membangun manusia yang tidak hanya Jawa atau Eropa. Perspektif ini yang kemudian membuat organisasi seperti Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) melihat Kartini sebagai figur dengan semangat internasionalisme, bahkan mendekati gagasan sosialisme.

Pada masa Soekarno, Kartini bahkan sempat diusulkan menjadi pahlawan nasional setelah Cut Nyak Dien. Jejak usulan itu masih tersimpan di Museum Kartini Rembang.

Klasifikasi Seorang Pahlawan Nasional

Berbeda dengan tokoh seperti Cut Nyak Dien yang mengangkat senjata, Kartini memilih jalur gagasan. Ia menanamkan perubahan melalui pendidikan dan praktik keseharian.

Kurikulum yang ia ajarkan—memasak, membatik, menulis, hingga menggambar—sering disalahpahami sebagai domestikasi perempuan. Padahal, dalam konteks kolonial, itu merupakan bentuk perlawanan. Di tengah eksploitasi rempah-rempah oleh penjajah, Kartini justru menanamkan kecintaan pada pangan lokal, mengajarkan proses dari menanam hingga mengolah.

Ia juga mencontohkan kemandirian melalui praktik swasembada sederhana: menggambar dengan arang, menanam tanaman obat, hingga mengelola produksi batik. Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar teori, melainkan keterampilan hidup yang membebaskan.

Kartini di Tengah Kompleksitas Zaman

Kartini hidup dalam masa transisi kolonial yang kompleks, mulai dari sistem tanam paksa hingga politik liberal. Dalam periode itu, bupati diwajibkan menyetorkan hasil kepada pemerintah kolonial Belanda.

Ia juga hidup sezaman dengan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama yang berjejaring di wilayah Lasem. Namun, berbeda dengan pola perlawanan bersenjata seperti dalam Perang Diponegoro, gagasan Kartini tidak bersifat lokal. Ia tidak pernah menyatakan perjuangannya hanya untuk Rembang, melainkan memiliki cakrawala yang lebih luas.

Dalam waktu singkat—sekitar 11 bulan di Rembang—Kartini telah melakukan berbagai inisiatif sosial dengan dukungan suaminya. Kehidupan pribadinya pun jauh dari gambaran mewah seperti yang sering ditampilkan dalam film. Ia masih mencatat utang kecil, menjahit pakaian untuk ibunya, dan hidup dalam kesederhanaan.

Pemikiran Kartini juga tampak dalam catatan ekonominya yang rinci, mulai dari perhitungan hasil pertanian hingga nilai jual. Cara berpikir ini bahkan kerap disandingkan dengan analisis dalam karya Karl Marx tentang relasi produksi dan buruh tani.

Di sisi lain, Kartini juga memanfaatkan narasi budaya seperti kisah Pandawa dan Kurawa sebagai metafora perlawanan—kekuatan kecil melawan dominasi besar. Ia memahami bahwa cerita dan pengetahuan dapat menjadi alat perubahan sosial, selama masyarakat mau belajar.

Bahkan, dalam surat-suratnya, Kartini mencatat kehidupan domestiknya secara jujur—tentang kebun mawar, tanaman jamu, hingga relasi dengan lingkungan keluarga yang tidak selalu seburuk yang dibayangkan publik.

Pada akhirnya, Kartini bukan sekadar simbol emansipasi perempuan, apalagi ikon yang dibatasi oleh identitas lokal atau agama. Ia adalah pemikir yang menawarkan visi tentang manusia merdeka—yang berpikir, bekerja, dan hidup tanpa sekat.

Upaya membaca ulang Kartini menjadi penting, agar ia tidak terus-menerus dikurung dalam tafsir sempit. Sebab, seperti yang tercermin dalam gagasannya, perubahan tidak selalu lahir dari senjata, melainkan dari ide yang mampu menggerakkan cara pandang manusia.