Duta Kampus atau Sekadar Panggung Popularitas?
Oleh: Abdul Khakim
Mahasiswa STAI Al Kamal Sarang
Fenomena munculnya berbagai "duta" di lingkungan kampus kini menjadi sesuatu yang lumrah. Hampir setiap kegiatan, organisasi, bahkan institusi pendidikan berlomba-lomba menghadirkan figur yang disebut sebagai duta. Mulai dari duta kampus, duta literasi, duta pendidikan, hingga berbagai label lain yang terus bermunculan. Sekilas, hal tersebut tampak sebagai bentuk apresiasi terhadap mahasiswa yang memiliki potensi dan kapasitas. Namun, apabila ditelaah secara lebih mendalam, muncul pertanyaan mendasar: apakah keberadaan duta benar-benar merepresentasikan kepentingan akademik dan mahasiswa, atau justru hanya menjadi panggung pencitraan?
Secara ontologis, kampus merupakan ruang dialektika. Ia adalah tempat bertemunya gagasan, kritik, penelitian, dan proses pembelajaran yang bertujuan melahirkan intelektual yang berpihak pada kebenaran. Akan tetapi, realitas yang terlihat hari ini menunjukkan adanya pergeseran makna. Kampus perlahan berubah menjadi ruang pertunjukan citra, tempat popularitas lebih dihargai daripada kapasitas, dan estetika media sosial lebih diprioritaskan daripada keberanian menyampaikan kritik.
Ironisnya, tidak sedikit ajang pemilihan duta yang lebih menonjolkan aspek penampilan, kemampuan membangun personal branding, dan jumlah pengikut di media sosial dibandingkan kualitas pemikiran. Akibatnya, gelar "duta" kehilangan esensi. Mereka hadir dengan foto-foto yang menarik, video promosi yang estetik, serta berbagai unggahan yang memperoleh banyak apresiasi di Instagram. Namun pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apa dampak nyata yang mereka berikan kepada mahasiswa dan kampus?
Hakikat seorang duta adalah menjadi representasi. Dalam konteks kampus, seorang duta seharusnya mampu mewakili aspirasi mahasiswa, memperjuangkan kepentingan akademik, serta menjadi jembatan komunikasi antara civitas akademika dan mahasiswa. Namun, apakah fungsi tersebut benar-benar berjalan? Ataukah gelar tersebut hanya menjadi simbol prestise yang berhenti pada seremoni dan dokumentasi?
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas para duta lebih banyak berorientasi pada publikasi dibandingkan advokasi. Isu-isu penting seperti mahalnya biaya pendidikan, kualitas pelayanan akademik, fasilitas kampus yang tidak memadai, hingga persoalan kesejahteraan mahasiswa jarang menjadi perhatian utama. Padahal, persoalan-persoalan inilah yang justru membutuhkan representasi mahasiswa yang berani bersuara
Lebih jauh lagi, fenomena ini membuka ruang transaksional yang patut dikritisi. Gelar duta sering kali menjadi instrumen pencitraan institusi. Kampus memperoleh wajah yang terlihat baik di media sosial, sementara berbagai persoalan internal tetap tersimpan rapi di balik kemasan promosi. Akibatnya, mahasiswa tidak lagi melihat duta sebagai representasi perjuangan, melainkan sebagai ikon pemasaran yang bertugas membangun citra positif institusi.
Tentu, kritik ini bukan ditujukan kepada seluruh duta. Masih banyak mahasiswa yang menyandang gelar tersebut dengan penuh integritas dan dedikasi. Akan tetapi, sistem yang dibangun hari ini cenderung lebih memberikan ruang kepada mereka yang mampu tampil menarik daripada mereka yang memiliki keberanian berpikir kritis dan memperjuangkan kepentingan bersama.
Sudah saatnya makna duta dikembalikan pada hakikatnya. Kampus tidak membutuhkan sosok yang sekadar glamor, mewah, atau sibuk membangun citra digital. Kampus membutuhkan mahasiswa yang memiliki keberanian moral untuk menyuarakan ketidakadilan, mengkritisi kebijakan yang keliru, serta menghadirkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi civitas akademika.
pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang duta bukanlah seberapa estetik foto yang diunggah di media sosial, bukan pula seberapa banyak pengikut di Instagram. Keberhasilan seorang duta diukur dari seberapa besar keberpihakannya kepada mahasiswa, seberapa lantang ia menyuarakan kebenaran, dan seberapa nyata kontribusinya dalam memperbaiki wajah kampus.
Duta bukanlah simbol popularitas. Duta adalah representasi keberanian, intelektualitas, dan pengabdian. Jika fungsi itu hilang, maka yang tersisa hanyalah gelar tanpa makna.

Gabung dalam percakapan