Budaya “Scrolling” Mempengaruhi Konsentrasi Dan Nalar Kritis Pemuda


Oleh: Ahmah Baha`us Sholeh

Mahasiswa STAI Al Anwar Sarang


“Sekarang rata-rata remaja dan bahkan sampai dewasa seseorang menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk menggulir layar, akan tetapi mereka hanya beberapa menit saja mereka membaca secara mendalam.” Fenomena ini tidak hanya sekedar perubahan kebiasaan, melainkan perubahan cara berfikir manusia. Di tengah-tengah derasnya konten pendek dan berbagai reals informasi yang datang silih berganti membuat perhatian bagi komoditas yang diperebutkan. Fenomena ini membuat generasi muda tumbuh dalam budaya yang menuntut segala sesuatu serba instan. Akibatnya dalam melihat suatu masalah mereka dapat mengalami kedangkalan cara berfikir sehingga melihat suatu persoalan tidak secara komperhensif 

Konten pendek memang memberikan kemudahan dalam melihat informasi dan dapat menangkap inti dari suatu persoalan. Akan tetapi kemudahan tersebut juga menghadirkan paradoks, semakin banyak kita menerima informasi belum tentu kita dapat memahaminya secara mendalam. al hasil kebanyakan scrolling tanpa jeda mendorong seseorang lebih sering bereaksi dari pada berfikir, lebih cepat menyimpulkan suatu peristiwa dari pada menganalisi, dan lebih mudah menerima informasi dari pada mengkajinya. Di sinilah suatu nalar kritis mulai terbentuk, bukan hanya karena generasi muda Indonesia kehilangan akal kecerdasannya, melainkan mereka terbelenggu dalam lingkaran digital.

Peristiwa ini tidak hanya dapat dipandang sebagai kesalahan individu seseorang semata. Melainkan algoritma media sosial memang sering dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin melalui sebuah konten yang singkat, menarik, dan terus berganti. Dalam situasi ini forum-forum diskusi ataupun clas literasi menjadi tameng untuk menjadi sebuah solusi. Karena kemampuan berfikir kritis justru menjadi keterampilan yang harus sering diasah untuk para generasi muda pada   khususnya. Pendidikan, masyarakat dan keluarga perlu menjadi wadah yang mendorong budaya membaca, berdiskusi, dan merefleksi informasi agar generasi tidak tergerus menjadi konsumen konten, akan tetapi juga produsen gagaran yang bernalar.

Pada akhirnya, menjadi tantangan terbesar bagi para generasi muda bukanlah banjir akan informasi, melainkan kemampuan untuk berhenti sejenak, berfikir secara mendalam, lalu memahami makna dari setiap informasi yang diterima. Dari sinilah teknologi seharusnya menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memperluas cakrawala berfikirm, bukan malah mempersempit rentang perhatian. Pada titik inilah masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita menggulir layer, akan tetapi seberapa dalam kita mampu memahami dunia dibaliknya.