Ketika Diam Menjadi Cara Untuk Tetap Merasa Aman
Oleh: Zahrotul Mutiah Sulistiyani
Mahasiswa Universitas YPPI Rembang
Pendahuluan
Diam dan terlihat terus tertawa sepanjang harinya bukan berarti hidup seseorang baik-baik saja, banyak perempuan dimasa sekarang yang memiliki banyak luka namun memilih untuk diam. bukan karena terima dengan semua yang terjadi namun terkadang diam merupakan cara mereka untuk tetap merasa aman tanpa intimidasi. Pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan bukanlah hal yang hanya sekedar terdengar sesekali namun sudah seperti kenyataan yang terus mengancam rasa aman dimanapun seseorang berada. Na’asnya ketika hal-hal seperti ini terjadi banyak masyarakat yang lebih menyoroti pada sikap, pakaian, ataupun alasan seseorang memilih diam dan tidak bercerita maupun melapor ketika hal tersebut sudah dianggap terlalu lama berlalu.
Fenomena seperti ini memunculkan pertanyaan “mengapa banyak Perempuan memilih diam setelah mengalami pelecehan?”. Apakah karena mereka merasa takut untuk bercerita atau malah karena lingkungan sosial yang membuat mereka merasa tidak aman untuk mengungkapkan kebenaran? Mari kita bedah dengan sisi kemanusian bahwa diam bukan berati menerima namun cara seseorang bertahan dari rasa takut dan trauma.
Pembahasan
Pelecehan seksual terjadi tanpa memandang seseorang dari latar belakang, pakaian, bahkan usia. Perempuan dapat mengalami pelecehan sosial dimanapun: sekolah, kampus, tempat kerja, transportasi umum bahkan dilingkuan yang seharusnya menjadi tempat paling aman sekalipun, yaitu keluarga. Sayangnya, banyak korban yang tidak berani untuk melaporkan bahkan untuk sekedar bercerita pada orang terdekatnya.
Banyak orang yang merasa bercerita merupakan hal yang mudah. Namun ketika kita melihat dari sisi korban pelecehan seksual bercerita artinya mengingat Kembali pengalaman yang menyakitkan bagi mereka dan hal tersebut menyebabkan trauma yang semakin mendalam karena selama apapun pengalaman tersebut berlalu tak pernah menghilangkan ingatan bagaimana rasa sakit yang tertoreh di ingatan mereka. Menurut mereka bercerita sama saja menimbulkan rasa takut baru dimana mereka takut dihina, dicaci, dijudge, disalahkan bahkan ancaman dari pelaku yang semakin mempersempit rasa aman mereka. Bukan sedikit dari banyaknya korban yang memilih untuk diam karena takut dunia tidak akan berpihak pada mereka.
Yang lebih menyedihkan sekarang banyak masyarakat yang budayakan victim blaming. Ketika korban akhirnya berani bercerita bukan perlindungan atau keadilan yang mereka dapat namun malah mengulik alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi atau bahkan mencari kesalahan dari sang korban. Ketika cerita selesai dibagikan bukannya kalimat penenang yang mereka berikan namun malah pertanyaan yang dimana hal tersebut semakin mengintimidasi korban, seperti “mengapa baru melapor?”, “mengapa dia tidak melawan?” atau “ pakaian apa yang dia kenakan saat itu?”bahkan kadang-kadang ketika sudah bercerita dan melapor kasus tersebut bukannya langsung ditindaklanjuti tapi malah disebarluaskan. Hal-hal tersebutlah yang kemudian memunculan pemikiran pada sang korban bahwa diam lebih baik daripada harus bercerita ataupun melapor.
Sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang dalam menanggapi kasus pelecehan. Sekecil apapun pelecehan seksual itu terjadi sudah sepatutnya kita menghormati, membela, memberikan rasa aman dan mempercayai para korban. Dengan begitu, setiap perempuan yang mengalami pelecehan tidak akan merasa sendirian dan lebih berani dalam memperjuangkan keadilan atas apa yang mereka alami.
Kesimpulan
Diam bukan berarti Perempuan tidak punya suara dan menerima semua yang mereka alami. Seringkali diam merupakan cara mereka untuk tetap merasa aman dan bertahan dari rasa takut juga trauma. Oleh karena itu, marilah kita dukung dan kawal setiap kasus pelecehan seksual agar mendapatkan keadilan dan menciptakan ruang aman bagi para korban, karena mengurangi kasus pelecehan tidak cukup hanya dengan menghukum para pelaku, namun juga mendukung para korban pelecehan seksual untuk berbicara tanpa rasa takut.
Pada akhirnya, masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan. Dengan kita mulai mendengarkan dengan hati tanpa meng-judge, setiap korban yang selama ini terbungkam akan mulai berani untuk speak-up apa yang mereka alami. Karena untuk bersuara perempuan tidak memerlukan keberanian yang luar biasa namun mereka membutuhkan dunia yang adil untuk mendengarkan apa yang mereka alami. Sebab, sebesar apapun keberanian perempuan jika dunia tidak memberikan ruang yang aman dan adil bagi mereka maka keberanian tersebut takkan ada artinya.

Gabung dalam percakapan