MAHASISWA: PEMUDA BUDAK VALIDASI
Oleh: Lutfi Sanafia Idris
"Teman-teman, mari kita adakan diskusi terkait Koperasi Merah Putih." Seperti itulah isi pesan ketua organisasi mahasiswa dalam grup WhatsApp. Berharap akan dibalas dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seperti: masalah apa dengan Kopdes, ada isu terbaru apa, siapa yang bermasalah, dan berbagai persoalan lainnya. Namun balasan yang muncul justru berbeda: diskusi di mana, kita diskusi di kafe itu saja, tempatnya bagus, estetik, kopinya juga enak, ada siapa saja, hingga bermacam perdebatan tentang minuman, makanan, dan tempat yang bagus. Entah apa yang mereka pikirkan sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka adalah mahasiswa, bukan food vlogger. Di titik inilah saya bertanya-tanya, apakah pemuda sekarang masih peduli mencari ilmu yang didapat saat diskusi? Atau mereka hanya sekadar hadir agar dicap keren?
Fenomena pergeseran perilaku mahasiswa ini banyak sekali terjadi. Misalnya pada organisasi mahasiswa internal yang terus membuat seminar, talkshow, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun, output yang dipikirkan mahasiswa bukanlah ilmu, perubahan, atau diskusi yang menarik. Yang ada dalam benak mereka hanyalah absensi dan sertifikat yang bisa digunakan entah untuk syarat kelulusan atau kepentingan lainnya. Akibatnya, selama sesi acara mereka hanya duduk sambil bermain handphone. Mahasiswa organisasi eksternal pun tidak jauh berbeda. Ketika ingin mengadakan diskusi, yang dipikirkan pengurus maupun anggotanya justru makanan yang enak, jajanan yang lezat, serta tempat diskusi yang sedang tren dan estetik. Saat diskusi berlangsung mereka hanya diam, bermain handphone, bahkan terlihat mengantuk dan tidak tertarik dengan isu yang sedang dibicarakan. Namun, ketika diskusi telah usai, semangatnya mengalahkan Argentina juara dunia. Mereka sibuk berfoto dengan pose sekeren mungkin, memikirkan konten apa yang akan dibuat, seolah-olah diskusi tadi hanyalah angin yang lewat, sedangkan foto dan video menjadi prioritas layaknya program MBG.
Media sosial pribadi maupun organisasi memang terlihat sangat menarik, tetapi isi diskusinya hanya lewat begitu saja. Masuk ke telinga pun enggan. Bagi mereka, keberhasilan organisasi diukur ketika kontennya berhasil masuk FYP. Benar-benar idealisme mereka dilelang dengan view Instagram. Fenomena inilah yang membuat saya bertanya, apakah diskusi mahasiswa sekarang telah bergeser menjadi sekadar latar belakang untuk mencari validasi?. Fenomena lain yang paling memprihatinkan adalah ketika mahasiswa berbicara begitu lantang mengenai suatu ilmu atau isu sosial. Kata-katanya mengalir tanpa henti. Namun, ketika ditanya ilmu itu berasal dari mana atau berita itu didapat dari mana, mereka hanya menjawab, "Dari Reels Instagram," atau, "Dari konten TikTok." What?. Memang benar, berita sekarang sangat mudah didapatkan. Namun, apakah mereka tidak sadar bahwa informasi seperti itu tidak bisa langsung dijadikan rujukan karena validitasnya masih dipertanyakan? Mengonsumsi informasi dari Reels atau video pendek tanpa verifikasi sangat berbahaya. Banyak konten dibuat dengan narasi provokatif demi viral dan keuntungan semata. Narasi seperti itu seharusnya tidak keluar dari mulut seorang mahasiswa. "Mahasiswa yang gampang dikendalikan." Mungkin itulah diksi yang paling cocok untuk menggambarkan fenomena ini.
Fenomena bergesernya arah pemuda inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan besar dalam diri saya. Mengapa ini bisa terjadi?. Apa yang salah?. Dan siapa yang harus disalahkan?. Mengapa mahasiswa yang dahulu dikenal idealis perlahan bergeser menjadi materialistis dan pragmatis? Tentu banyak penyebabnya. Salah satunya adalah budaya media sosial. Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memberikan dampak yang sangat besar terhadap perubahan perilaku pemuda zaman sekarang. Media sosial membuat mereka hanya mengejar validasi. Itulah sebabnya banyak mahasiswa yang sorotan Instagram-nya penuh dengan kegiatan organisasi, tetapi pikirannya kosong. Sebab, yang mereka kejar hanyalah support dan pengakuan dari khalayak ramai, bukan ilmu yang menjadi esensi dari acara organisasi tersebut. Efek domino dari kondisi ini melahirkan banyak pemuda yang hanya ingin terlihat aktif, bukan benar-benar aktif. Mereka ingin dicap keren oleh lingkungannya karena cara berpikir mereka telah dimakan algoritma yang lebih menghargai penampilan daripada pemikiran. Pada akhirnya, itulah yang banyak terjadi pada mahasiswa saat ini. Mereka sibuk membangun citra agar terlihat keren dibandingkan membangun kapasitas diri. Baru membaca satu buku sudah berlagak layaknya Soekarno.
Berbagai penyebab inilah yang kemudian menjadi bahan komentar masyarakat, bahkan menjadi bahan bakar bagi para buzzer. Dampak yang ditimbulkan pun tidak sedikit. Organisasi mahasiswa menjadi lebih mudah ditunggangi kepentingan politik. Diskusi mulai dianggap remeh. Idealisme semakin mudah dikuras. Cara berpikir pragmatis, materialistis, hingga apatis semakin mengakar. Banyak mahasiswa hanya memikirkan cuan sehingga sangat mudah digoda oleh politisi yang mampu membeli suara mereka. Di luar itu, muncul pula dampak lain, seperti mudah menyebarkan informasi tanpa memeriksa validitasnya. Dari sinilah lahir dampak-dampak berikutnya. Kritik berubah menjadi ujaran kebencian karena malas membaca. Daya kritis menurun sehingga kita mudah terprovokasi. Pada akhirnya, ketika mengkritik sesuatu, yang berbicara hanyalah amarah, bukan hasil kajian yang matang. Inilah yang mendasari lahirnya demonstrasi yang kehilangan substansinya. Semua dampak ini tidak lepas dari persoalan mendasar bahwa pemuda yang dahulu kuat memegang idealismenya perlahan bergeser menjadi pragmatis.
Menurut saya, ketika membaca dianggap membosankan, sementara membuat konten dianggap prestasi, maka yang lahir adalah mahasiswa yang lantang bersuara tetapi rapuh argumentasi. Fenomena yang muncul sebagai akibat dari sebab-akibat tersebut menjadi refleksi, bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi seluruh mahasiswa. Sebab, selama kita masih menyandang status sebagai pemuda dan mahasiswa, kita memiliki peran sebagai agent of change, moral force, dan social control. Maka jangan sekali-kali menjual idealisme demi validasi dan keuntungan semata. Benar kata Tan Malaka, "Idealis adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda." Dan kemewahan terakhir manusia adalah ketika ia masih sanggup menjadi seorang idealis. Sebab itu, media sosial seharusnya bukan menjadi musuh mahasiswa. Yang menjadi persoalan adalah ketika media sosial mengambil alih fungsi berpikir idealis seorang pemuda. Jangan pernah menjual idealisme pemuda demi validasi media sosial semata. Pemuda sudah seharusnya mengunggah foto dan video diskusi sebagai upaya mendorong terciptanya lingkungan intelektual yang sehat. Namun, yang jauh lebih penting adalah memastikan dirinya benar-benar berdiskusi. Karena sejarah tidak pernah berubah oleh unggahan, melainkan oleh gagasan yang lahir dari kebiasaan membaca, berpikir, dan keberanian untuk memperjuangkannya.

Gabung dalam percakapan