SCROLL, BANDINGKAN, CEMAS: JERATAN MEDIA SOSIAL UNTUK ANAK MUDA

 

Oleh: Nisa Fitria


Niat awal buka HP untuk melihat notifikasi dan belajar, lanjut  scroll 5 menit jadi 1 jam. Melihat layar yang ada di depan kita, isinya orang liburan, orang sukses sebelum usia 25 tahun, orang glow up, dan masih banyak lagi. Tanpa kita sadari jari kita capek, hati pun ikut capek. Inilah lingkaran “Scroll, Bandingkan, Cemas” yang lagi dialami anak muda sekarang. Media sosial yang awalnya buat nyambung malah jadi sumber resah. Fenomena seperti ini bukan sebuah kebetulan. Media sosial memiliki algoritma, yang memang dirancang agar kita terus betah di layar, sementara itu konten-konten yang disajikan seringkali menampilkan sisi kehidupan orang lain yang paling sempurna. Akibatnya, banyak anak muda tanpa sadar terjebak dalam hal membandingkan diri dengan standar yang tidak nyata. Hal tersebut, memicu rasa cemas, insecure, hingga kehilangan arah dalam menjalani hidup mereka sendiri.

Media sosial begitu mudah membuat anak muda terjebak dalam perbandingan. Media sosial memiliki fitur infinite scroll dan algoritma FYP, yang mana memang dirancang untuk membuat kita ketagihan untuk melihatnya. Setiap kali scroll, otak dapat hadiah kecil berupa konten yang “katanya penting”. Mucul lagi isilah FOMO, rasa takut ketinggalan sama trend yang sedang naik daun pada masa itu atau juga bisa tentang kehidupan orang lain. Akibatnya, kita tidak sadar yang awalmya pengen cuma beberapa menit tapi malah berakhir jadi satu jam. Sehingga, mata kita dipaksa melihat konten tenang kehidupan orang lain terus- menerus, dan perbandingan pun dimulai tanpa diundang.

Secara tidak langsung, kita akan memiliki kebiasaan membandingankan hidup kita saat berantakan dengan versi terbaik orang lain, yang memcicu rasa cemas, insecure, hingga anxiety. Dampaknya bagi mental kita cukup serius, banyak anak muda jadi susah tidur karena otaknya sibuk mikirin yang tidak penting, sibuk overthinking, sampai bilang sama diri sendiri “Aku kok gini-gini aja ya?”. Sehingga energi yang seharusnya dipakai untuk belajar atau kerja habis untuk mikir dan membandingkan. Munculah gejala susah fokus dalam segala hal, lebih parahnya lagi, bingung sama identitas diri sendiri karena sibuk menjadi versi terbaik yang disukai algoritma, bukan menjadi diri sendiri yang asli.

Kesalahan bukan untuk dihabisi, namun diperbaiki. Kuncinya bukan dihapus, tapi dikendalikan. Lalu “Bagaimana cara kita untuk mengendalikan kebiasaan itu?”. Yang pertama kita lakukan adalah sadar, karena kalau kita tak sadar, kita akan terus terjebak dalam zona yang katanya nyaman, namun menjerumuskan itu. Dan sadar itu dimulai ketika kita merasa cemas setelah scroll dan berpikir “Wah, aku lagi bandingin diri sendiri nih”. Selanjutnya kita buat batasan, seperti: mematikan notifikasi, menggunakan timer, atau juga melakukan digital detox dengat waktu singkat terlebih dahulu. Setelah punya batasan, kita bisa mengurangi FYP dengan unfollow akun yang bikin kita insecure, dan ganti dengan akun yang mengedukasi atau menginspirasi. Kemudian yang terakhir, kembali ke aksi dan kerjakan suatu hal kecil di dunia nyata. Dan perlu diingat, yang kita lihat di layar hanyalah gambaran 1% terbaik dari hidup seseorang, bukan keseluruhannya.