Lasem dan Urgensi Pendidikan Sejarah Lokal

Oleh: Mohammad Qomarul Huda, S.Pd.

 (Guru Sejarah MAN 2 Rembang)

Klenteng Cu An Kiong, salah satu bangunan bersejarah di Lasem (sumber: dokumentasi pribadi)

Lasem kerap dikenal sebagai “kota kecil dengan sejarah besar”. Julukan ini mencerminkan posisi penting Lasem dalam perjalanan sejarah kawasan pesisir utara Jawa. Sejak dahulu, wilayah ini menjadi titik temu berbagai kebudayaan yang saling berinteraksi dan kemudian membentuk identitas sosial yang khas. Sebutan “Tiongkok Kecil” yang melekat pada Lasem tidak dapat dilepaskan dari kuatnya pengaruh budaya Tionghoa yang telah hadir dan berkembang selama berabad-abad. Kawasan Pecinan Lasem bahkan termasuk salah satu yang tertua di Indonesia, menunjukkan bagaimana interaksi antar etnis mampu melahirkan identitas ruang yang unik. 

Di tengah kekayaan sejarah tersebut, muncul fenomena yang cukup mengkhawatirkan, yakni semakin berkurangnya kedekatan generasi muda dengan sejarah lokalnya sendiri. Arus globalisasi membuat perhatian generasi muda lebih terarah pada hal-hal yang bersifat kekinian, sementara sejarah lokal mulai terpinggirkan. Akibatnya, nilai-nilai historis dan kearifan lokal yang terkandung dalam perjalanan panjang Lasem berpotensi terabaikan. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan dan masyarakat untuk kembali menghidupkan sejarah lokal sebagai bagian penting dalam pembentukan identitas dan karakter generasi muda. 

Dalam konteks pendidikan formal, perhatian terhadap sejarah lokal masih relatif terbatas. Padahal, sejarah lokal memiliki peran penting dalam membangun kedekatan emosional siswa dengan masa lalu daerahnya. Melalui pembelajaran sejarah lokal, siswa dapat memahami lingkungan sosial dan budaya mereka secara lebih konkret, sekaligus menyerap nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pembelajaran sejarah di sekolah masih didominasi oleh narasi besar sejarah nasional. Fokus yang berlebihan pada peristiwa nasional menyebabkan siswa kurang mengenal tokoh, peristiwa, maupun warisan budaya di daerahnya sendiri. 

Sebenarnya, pembelajaran sejarah pada satuan pendidikan menengah atas memberikan keluasan bagi guru dan siswa untuk mengenali, mempelajari mengenai sejarah lokal di sekitar mereka tinggal (Kuswoyo, dkk. 2021). Jika tidak direspons, dampaknya, kesadaran generasi muda terhadap identitas lokal dan nilai-nilai historis menjadi rendah. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka rasa memiliki terhadap budaya dan lingkungan sejarah akan semakin melemah. 

Lasem sebagai Ruang Sejarah yang Kaya 

Sebagai wilayah pesisir, Lasem memiliki kekayaan sejarah yang panjang, khususnya terkait dengan masuknya etnis Tionghoa. Sejak awal kedatangannya, komunitas Tionghoa tidak hanya berperan dalam aktivitas perdagangan, tetapi juga membawa nilai, tradisi, dan praktik budaya yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat lokal. Interaksi ini menghasilkan proses akulturasi yang membentuk karakter sosial budaya masyarakat Lasem hingga sekarang. 

Perkembangan aktivitas ekonomi menjadikan Lasem sebagai pusat perdagangan sekaligus ruang pertukaran budaya dan gagasan. Prahastiwi (2023) menjelaskan Kawasan pesisir menjadi ruang interaksi yang intens antara berbagai kelompok masyarakat, sehingga mendorong terjadinya pertukaran budaya yang kemudian melahirkan proses akulturasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Kekayaan sejarah Lasem juga dapat dilihat dari berbagai peninggalan fisik yang masih bertahan hingga kini, seperti rumah merah, klenteng, batik Lasem, dan kawasan Pecinan. Lebih jauh, Lasem dikenal sebagai ruang sosial yang mencerminkan praktik toleransi antar etnis dan agama. Kehadiran klenteng, masjid, dan pesantren dalam satu kawasan menunjukkan adanya kehidupan masyarakat yang saling menghormati. Selain itu, sejarah Lasem juga mencatat semangat perjuangan masyarakatnya dalam menghadapi kolonialisme. 

Menurut Atabik (2016), hubungan harmonis antara masyarakat Tionghoa dan pribumi di Lasem tidak hanya terlihat dalam kehidupan sosial dan keagamaan, tetapi juga tercermin dalam sejarah ketika kedua kelompok tersebut bersama-sama melakukan perlawanan terhadap penjajah. 

Problematika dan Urgensi Sejarah Lokal 

Pembelajaran sejarah saat ini masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya adalah dominasi materi yang bersifat tekstual dan kurang kontekstual. Sejarah sering kali dipahami sebagai kumpulan fakta dan kronologi yang harus dihafal, bukan sebagai proses dinamis yang memiliki relevansi dengan kehidupan masa kini. 

Pembelajaran yang masih dominan teoritis menunjukkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar belum optimal, sehingga proses belajar menjadi kurang bermakna bagi siswa (Pebrianti, dkk, 2024) Akibat dari pendekatan tersebut, siswa cenderung menghafal tanpa memahami makna sejarah secara mendalam. Pembelajaran yang berorientasi pada hafalan membuat siswa kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif. Padahal, pembelajaran sejarah seharusnya mendorong siswa untuk memahami nilai dan makna dari setiap peristiwa yang dipelajari. Dalam hal ini, pendidikan sejarah lokal memiliki peran yang sangat penting. Melalui pendekatan sejarah lokal, siswa dapat memahami sejarah yang dekat dengan kehidupan mereka. Selain itu, pembelajaran ini juga mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah serta meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian budaya dan warisan sejarah. Setiawan & Amalia (2025) menegaskan bahwa sejarah lokal berperan dalam meningkatkan kesadaran sejarah siswa sekaligus memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari masyarakat. 

Strategi Implementasi dalam Pembelajaran

Upaya mengintegrasikan sejarah lokal dalam pendidikan dapat dilakukan melalui berbagai strategi. Salah satunya adalah pembelajaran berbasis kunjungan lapangan (field trip) ke Lasem. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat secara langsung situs-situs bersejarah dan merasakan atmosfer historisnya. 

Kunjungan ke kawasan Pecinan, klenteng, rumah merah, maupun sentra batik Lasem akan membuat siswa memahami sejarah secara lebih konkret dan bermakna. Selain itu, keberadaan komunitas sejarah dapat dimanfaatkan sebagai mitra dalam mendampingi kegiatan pembelajaran tersebut. Penggunaan metode storytelling juga menjadi strategi yang efektif dalam pembelajaran sejarah. Guru dapat menyampaikan kisah-kisah sejarah Lasem secara naratif dan menarik, sehingga mampu membangun imajinasi dan keterlibatan emosional siswa. Menurut Jayan dkk (2026), storytelling membuat pembelajaran sejarah lebih reflektif, kontekstual, dan meningkatkan keterlibatan serta pemahaman siswa terhadap makna sejarah. Selain itu, integrasi sejarah Lasem ke dalam kurikulum maupun proyek pembelajaran juga perlu dilakukan. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan seperti penelitian sederhana, dokumentasi situs sejarah, hingga pembuatan karya kreatif berbasis budaya lokal. Pendekatan ini mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Saya sendiri beberapa kali menugaskan siswa untuk mengunjungi tempat bersejarah di Lasem, mendokumentasikan (video) dengan menjelaskan mengenai bangunan tersebut. Terakhir, kolaborasi dengan komunitas lokal dan pelaku sejarah menjadi faktor penting dalam memperkaya pembelajaran. Kerja sama dengan tokoh masyarakat, pengelola situs, maupun komunitas sejarah dapat menghadirkan sumber belajar yang lebih autentik. Kehadiran pelaku sejarah memberikan pengalaman belajar yang lebih hidup dan mendalam, sekaligus menjadi upaya bersama dalam menjaga dan melestarikan sejarah lokal. 

Penutup 

Pendidikan sejarah lokal memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Tidak hanya sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan realitas sosial. Melalui sejarah lokal, siswa dapat memahami identitas dirinya sebagai bagian dari komunitas yang memiliki akar budaya yang kuat. Lasem menjadi contoh nyata bagaimana sejarah lokal dapat diimplementasikan secara kontekstual dan bermakna dalam pembelajaran. Kekayaan sejarah serta keberagaman budaya yang dimilikinya menjadikan Lasem sebagai sumber belajar yang hidup. Dengan pendekatan yang tepat, generasi muda tidak hanya memahami sejarah daerahnya, tetapi juga memiliki rasa bangga dan kepedulian untuk melestarikannya sebagai bagian dari identitas bangsa. 

Referensi:

 Atabik, Ahmad. (2016). Percampuran Budaya Jawa dan Cina: Harmoni dan Toleransi Beragama Masyarakat Lasem. Jurnal Sabda. 

Jayan, Aulya Akmal, dkk. (2026). Strategi Storytelling Dalam Pembelajaran Sejarah Untuk Mengembangkan Empati Historis Siswa. 

Jurnal Al-Muqaddimah. Kuswoyo, dkk. (2025). Pemanfaatan Kajian Sejarah Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah di Indonesia. Jurnal Lentera Pendidikan Pusat Penelitian LPPM UM METRO. 

Pebrianti, Susi Dwi, dkk. (2024). Penggunaan Lingkungan Sekitar Sebagai Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Pada Materi Ekosistem. Central Publisher. Prahastiwi, Eka Danik. (2023). 

Transformasi Budaya Pesisir: Dinamika Akulturasi Penduduk Pribumi dan Asimilasi Turis Asing di Pesisir Pantai Srau Kabupaten Pacitan. JURNALYA: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya.

 Setiawan, Wawan & Amaliya Kurniasih. (2025). Peran Sejarah Lokal Dalam Pembentukan Identitas Nasional: Studi Kasus Sejarah Kerajaan Nusantara. Jurnal Dinamika Sosial dan Sains.