Mengolor Paradigma, Usaha agar Tidak Mudah Lelah

 


Oleh: Ahmad Khoiron

Buruh Pabrik di Sidoarjo

Sejak memutuskan belajar menulis, saya mudah mengagumi penulis. Dari banyak sisi. Entah idenya, cara menyampaikan ide/cerita/gagasan atau dari cara dia memandang dan menangkap dunia sekitarnya, lalu menjadikannya sebuah tulisan. Kadang mewujud pada sebuah tokoh. Entah untuk cerpen, novel maupun film. Seakan ia memiliki bank ragam semesta untuk menciptakan sekian banyak karakter yang ia tampilkan dan pertemukan untuk membangun sebuah cerita.

Untuk mengumpulkan semua itu, jelas seorang penulis memiliki keterbukaan dan keluasan paradigma.

Menurut wikipedia, paradigma adalah kerangka berpikir, pola pandangan, atau model dasar yang digunakan manusia untuk memahami, memaknai, dan berinteraksi dengan realitas. Ia berfungsi sebagai kacamata untuk menafsirkan dunia, mempengaruhi nilai, tindakan, dan keputusan yang diambil. Dalam ilmu pengetahuan, paradigma mengarahkan metode penelitian dan pemecahan masalah. 

Ia berasal dari bahasa Yunani paradeigma (model/pola), sering diartikan sebagai cara pandang atau kerangka acuan. Fungsinya, sebagai pedoman atau dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.

Memikirkan hal itu, menggugah ingatan pada hal-hal kecil yang membuat saya nggumun, takjub bahkan kaget.

“Loh yok opo se arek iki?”

“Mosok se?”

“Tenan ta?”

“Itu nyata ya?”

Adalah daftar sebagai wujud ekspresi yang sering muncul secara reflek pada hal-hal asing di luar semesta pikiran atau kehidupan saya. Sebuah indikasi, betapa masih kerdilnya lingkup sosialisasi saya, atau kurangnya kepekaan melihat sekitar. Mungkin karena masih sibuk dengan diri sendiri. Belum selesai dengan diri sendiri.

Ada beberapa hal dalam ingatan terkait hal-hal di atas. Sebagai pengingat, agar tidak menjadi orang yang gumunan lagi. Karena gumunan itu bikin capek.

1.Seorang Ayah yang bunuh diri setelah membunuh anaknya

Cerita ini saya dapat dari teman sebangku di bus.

Di sebuah jalanan tengah hutan di Tuban, suatu hari seorang remaja dibegal. Motor diambil. Nyawa dicabut.

Sesampainya Si Pembegal di rumah memasukkan motor hasil kerjanya, ia ditegur oleh istri.

“Lho pak, itu kan motor e anak kita? Dia kemana?”

Si Pembegal yang adalah ayah si remaja histeris. Ibu tak kalah histeris. Beberapa waktu kemudian, karena tak kuat menanggung kesedihan, si Ayah memutuskan menyusul anaknya.

Pernahkah kamu bayangkan hidup seperti apa yang bapak itu jalani? Di dalam rupa semesta seperti apa ia hidup?

Apa kita akan melihatnya dari kacamata kita saja dengan melempar pertanyaan: “Apa benar dalam pikiran si Bapak tidak pernah terlintas bahwa suatu saat anak atau sanak saudaranya akan lewat situ? Kenapa melakukan itu, apa tidak ada pilihan pekerjaan lain?” Dan kenapa-kenapa lainnya tanpa mencoba cari tahu seperti apa capeknya hidup seperti itu.

2.Orang yang tak tahu gayung air.

Orang seperti apa pula yang tak tahu gayung air? Cebuk?

Ada. Orang yang sejak kecil hidup di apartemen. Mandi dari air yang mengucur dari shower. Setelah BAB, mengusap dubur dengan tisu. BAK, pencet flash. Menyiram tanaman atau objek apapun dengan hand shower.

Hidupnya tak pernah bersinggungan dengan gayung. Ia tak pernah mandi dari air yang ada di bak mandi. Tak pernah ambil air minum dari gentong. Tak pernah menimba air sumur.

Singkatnya, ia tak pernah menyiduk air. Kecuali dengan tangan.

3. Apa yang aneh dari air yang menetes dari baju yang baru dicuci?

Sesaat seorang teman setelah mengaitkan hanger baju yang baru dicuci di gantungan, air dari baju mulai menetes.

loh kok menetes ya airnya.” Gumamnya.

“lho apanya yang aneh?”, batin saya.

Ia ambil lagi baju itu, ia peres dan kibas-kibaskan lagi untuk menghalau air dari baju. Setelah merasa  mengeluarkan usaha cukup keras, ia gantungkan lagi. Berharap tak ada lagi tetesan air.

Tentu saja masih ada tetesan lagi. Meskipun tidak serapat tetesan sebelumnya.

Pikiran saya waktu itu, “lho kok ada orang konyol seperti ini?”

Beberapa waktunya setelahnya, kami semakin akrab. Saya main ke rumahnya. Barulah saya sadar,

“Oh mungkin, temanku ini sejak kecil mencuci baju selalu memakai mesin cuci. Baju yang akan dihanger, sudah dalam keadaan setengah kering. Air tak lagi menetes saat digantung.”

Semesta hidup masa kecilnya berbeda denganku. Beda, bukan berarti tidak ada kan? Bukan berarti pula perlu disamakan. Hanya perlu diketahui dan dipahami.

4. Beda mulut, beda tindakan

Saat briefing sebelum masuk kerja, di hadapan puluhan anak buahnya, dengan PD dan berapi-api seorang leader lapangan menyampaikan pentingnya menjaga kebersihan di lingkungan kerja.

Sebelum masuk ruang kerja, ia ngudud dulu di teras. Sepertinya ia sedang menata perencanaan kerja di kepalanya. Klepas-klepus dengan pandangan menerawang. Baru habis setengah batang, ia segera mematikan rokok. Sepertinya, teringat sesuatu yang mendesak.

Ia menjentikkan rokok ke arah rerumputan, lalu melengang buru-buru masuk ruang kerja.

“Lho ono wong model nginiki?”

Pernah ga kamu mencoba menyelami alam pikir orang-orang seperti ini? Orang-orang yang bilang menjunjung tinggi integritas, tapi hanya sampai mulut. Orang yang bilang, membaca buku itu penting, tapi bertahun-tahun harga buku mahal, bertahun-tahun ada pembajakan buku, bertahun-tahun, bertahun-bertahun, bertahun-tahun, tetap dibiarkan. Saat ada berita literasi Indonesia yang rendah, ia jadi orang paling ringan tangan dan cepat tunjuk tangan ke segala arah.

Bikin capek kan?

Untuk apa kita sudi menyelami alam pikir mereka? Biar kita ga berharap ke orang-orang seperti itu. Biar ga makan hati.

Ada banyak hal-hal kecil seperti itu di sekitar kita. Untuk menemukannya tak perlu keluar pulau, tak perlu keluar negeri, tak perlu keluar angkasa. Bahkan di dalam kamarmu, kamu bisa menemukan hal-hal yang membuatmu takjub, hal-hal yang bisa mengolorkan paradigma. Tentu, bila ada kesempatan ke tempat yang jauh, akan jauh lebih baik.

Dengan keluwesan itu, setidaknya kita bisa mengintip cara berpikir seseorang. Bukan untuk apa-apa. Apalagi untuk justifikasi benar salah. Hanya sekedar agar bisa mengukur diri, pada batas mana kita berinteraksi dengan lingkungan atau orang tertentu. Sehingga energi kita tidak terbuang percuma.