Mengolor Paradigma, Usaha agar Tidak Mudah Lelah
Buruh Pabrik di Sidoarjo
Sejak memutuskan belajar menulis, saya mudah mengagumi penulis. Dari banyak sisi. Entah idenya, cara menyampaikan ide/cerita/gagasan atau dari cara dia memandang dan menangkap dunia sekitarnya, lalu menjadikannya sebuah tulisan. Kadang mewujud pada sebuah tokoh. Entah untuk cerpen, novel maupun film. Seakan ia memiliki bank ragam semesta untuk menciptakan sekian banyak karakter yang ia tampilkan dan pertemukan untuk membangun sebuah cerita.
Untuk mengumpulkan semua itu, jelas seorang
penulis memiliki keterbukaan dan keluasan paradigma.
Menurut wikipedia, paradigma adalah kerangka
berpikir, pola pandangan, atau model dasar yang digunakan manusia untuk
memahami, memaknai, dan berinteraksi dengan realitas. Ia berfungsi sebagai
kacamata untuk menafsirkan dunia, mempengaruhi nilai, tindakan, dan keputusan
yang diambil. Dalam ilmu pengetahuan, paradigma mengarahkan metode penelitian
dan pemecahan masalah.
Ia berasal dari bahasa Yunani paradeigma
(model/pola), sering diartikan sebagai cara pandang atau kerangka acuan.
Fungsinya, sebagai pedoman atau dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan.
Memikirkan hal itu, menggugah ingatan pada
hal-hal kecil yang membuat saya nggumun, takjub bahkan kaget.
“Loh yok opo se arek iki?”
“Mosok se?”
“Tenan ta?”
“Itu nyata ya?”
Adalah daftar sebagai wujud ekspresi yang
sering muncul secara reflek pada hal-hal asing di luar semesta pikiran atau
kehidupan saya. Sebuah indikasi, betapa masih kerdilnya lingkup sosialisasi
saya, atau kurangnya kepekaan melihat sekitar. Mungkin karena masih sibuk
dengan diri sendiri. Belum selesai dengan diri sendiri.
Ada beberapa hal dalam ingatan terkait hal-hal di atas. Sebagai pengingat, agar tidak menjadi orang yang gumunan lagi. Karena gumunan itu bikin capek.
1.Seorang Ayah yang
bunuh diri setelah membunuh anaknya
Cerita ini saya dapat dari teman sebangku di
bus.
Di sebuah jalanan tengah hutan di Tuban, suatu
hari seorang remaja dibegal. Motor diambil. Nyawa dicabut.
Sesampainya Si Pembegal di rumah memasukkan
motor hasil kerjanya, ia ditegur oleh istri.
“Lho pak, itu kan motor e anak kita? Dia
kemana?”
Si Pembegal yang adalah ayah si remaja
histeris. Ibu tak kalah histeris. Beberapa waktu kemudian, karena tak kuat
menanggung kesedihan, si Ayah memutuskan menyusul anaknya.
Pernahkah kamu bayangkan hidup seperti apa yang bapak itu jalani? Di dalam rupa semesta seperti apa ia hidup?
Apa kita akan melihatnya dari kacamata kita
saja dengan melempar pertanyaan: “Apa benar dalam pikiran si Bapak tidak
pernah terlintas bahwa suatu saat anak atau sanak saudaranya akan lewat situ?
Kenapa melakukan itu, apa tidak ada pilihan pekerjaan lain?” Dan
kenapa-kenapa lainnya tanpa mencoba cari tahu seperti apa capeknya hidup
seperti itu.
2.Orang yang tak tahu
gayung air.
Orang seperti apa pula yang tak tahu gayung
air? Cebuk?
Ada. Orang yang sejak kecil hidup di
apartemen. Mandi dari air yang mengucur dari shower. Setelah BAB,
mengusap dubur dengan tisu. BAK, pencet flash. Menyiram tanaman atau
objek apapun dengan hand shower.
Hidupnya tak pernah bersinggungan dengan
gayung. Ia tak pernah mandi dari air yang ada di bak mandi. Tak pernah ambil
air minum dari gentong. Tak pernah menimba air sumur.
Singkatnya, ia tak pernah menyiduk air.
Kecuali dengan tangan.
3. Apa yang aneh dari
air yang menetes dari baju yang baru dicuci?
Sesaat seorang teman setelah mengaitkan hanger
baju yang baru dicuci di gantungan, air dari baju mulai menetes.
“loh kok menetes ya airnya.” Gumamnya.
“lho apanya yang aneh?”, batin saya.
Ia ambil lagi baju itu, ia peres dan
kibas-kibaskan lagi untuk menghalau air dari baju. Setelah merasa
mengeluarkan usaha cukup keras, ia gantungkan lagi. Berharap tak ada lagi
tetesan air.
Tentu saja masih ada tetesan lagi. Meskipun
tidak serapat tetesan sebelumnya.
Pikiran saya waktu itu, “lho kok ada orang
konyol seperti ini?”
Beberapa waktunya setelahnya, kami semakin
akrab. Saya main ke rumahnya. Barulah saya sadar,
“Oh mungkin, temanku ini sejak kecil
mencuci baju selalu memakai mesin cuci. Baju yang akan dihanger, sudah dalam
keadaan setengah kering. Air tak lagi menetes saat digantung.”
Semesta hidup masa kecilnya berbeda denganku.
Beda, bukan berarti tidak ada kan? Bukan berarti pula perlu disamakan. Hanya
perlu diketahui dan dipahami.
4. Beda mulut, beda
tindakan
Saat briefing sebelum masuk kerja, di
hadapan puluhan anak buahnya, dengan PD dan berapi-api seorang leader
lapangan menyampaikan pentingnya menjaga kebersihan di lingkungan kerja.
Sebelum masuk ruang kerja, ia ngudud
dulu di teras. Sepertinya ia sedang menata perencanaan kerja di kepalanya. Klepas-klepus
dengan pandangan menerawang. Baru habis setengah batang, ia segera
mematikan rokok. Sepertinya, teringat sesuatu yang mendesak.
Ia menjentikkan rokok ke arah rerumputan, lalu
melengang buru-buru masuk ruang kerja.
“Lho ono wong model nginiki?”
Pernah ga kamu mencoba menyelami alam pikir
orang-orang seperti ini? Orang-orang yang bilang menjunjung tinggi integritas,
tapi hanya sampai mulut. Orang yang bilang, membaca buku itu penting, tapi
bertahun-tahun harga buku mahal, bertahun-tahun ada pembajakan buku,
bertahun-tahun, bertahun-bertahun, bertahun-tahun, tetap dibiarkan. Saat ada
berita literasi Indonesia yang rendah, ia jadi orang paling ringan tangan dan
cepat tunjuk tangan ke segala arah.
Bikin capek kan?
Untuk apa kita sudi menyelami alam pikir
mereka? Biar kita ga berharap ke orang-orang seperti itu. Biar ga makan hati.
Ada banyak hal-hal kecil seperti itu di sekitar kita. Untuk menemukannya tak perlu keluar pulau, tak perlu keluar negeri, tak perlu keluar angkasa. Bahkan di dalam kamarmu, kamu bisa menemukan hal-hal yang membuatmu takjub, hal-hal yang bisa mengolorkan paradigma. Tentu, bila ada kesempatan ke tempat yang jauh, akan jauh lebih baik.
Dengan keluwesan itu, setidaknya kita bisa
mengintip cara berpikir seseorang. Bukan untuk apa-apa. Apalagi untuk
justifikasi benar salah. Hanya sekedar agar bisa mengukur diri, pada batas mana
kita berinteraksi dengan lingkungan atau orang tertentu. Sehingga energi kita
tidak terbuang percuma.

Gabung dalam percakapan