Ketika Emansipasi Berubah Menjadi Ekspektasi
Oleh: Siti Nur Hidayatul Lailiah
Belakangan ini, media sosial dipenuhi dengan sosok perempuan yang disebut independent woman. Mereka sukses berkarier, memiliki penghasilan sendiri, aktif mengurus keluarga, mendidik anak, bahkan tetap tampil rapi dan penuh senyum. Konten seperti ini sering kali mendapat ribuan pujian. Perempuan yang mampu melakukan semuanya dianggap sebagai simbol kesuksesan sekaligus bukti bahwa kesetaraan gender semakin nyata. Awalnya, aku juga ikut mengagumi mereka. Bukankah ini yang selama ini diperjuangkan? Bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, memimpin, dan meraih prestasi setinggi mungkin. Namun, semakin sering melihat fenomena itu, muncul satu pertanyaan yang terus mengusik pikiranku.
“Apakah perempuan benar-benar sedang menikmati kesetaraan? Atau jangan-jangan, kita sedang menyaksikan beban ganda yang perlahan dinormalisasikan?”
Pembahasan
Tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan masa kini memiliki peluang yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Mereka dapat menjadi dokter, dosen, pengusaha, menteri, peneliti, maupun pemimpin perusahaan. Kesempatan tersebut merupakan kemajuan yang patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk berprestasi. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, ketika perempuan memasuki dunia kerja, apakah pekerjaan di rumah ikut terbagi secara adil? Pada realitanya, dalam banyak keluarga, jawabannya belum tentu. Masih banyak perempuan yang setelah bekerja seharian tetap menjadi pihak yang pertama bangun untuk menyiapkan sarapan, mengurus anak, membersihkan rumah, hingga memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bekerja selama delapan jam di kantor, tetapi "shift" kedua dimulai ketika sampai di rumah. Berbagai penelitian menyebut kondisi ini sebagai “beban ganda”, yaitu ketika perempuan memikul tanggung jawab di ranah publik sekaligus tetap menjadi penanggung jawab utama pekerjaan domestik.
Yang membuatku semakin berpikir adalah bagaimana media sosial menggambarkan semua itu.
Kita sering melihat video berjudul "A Day in My Life". Seorang perempuan bangun pukul lima pagi, memasak, mengantar anak sekolah, bekerja, pulang, memasak lagi, menemani anak belajar, lalu masih sempat berolahraga dan membuat konten. Semua terlihat begitu sempurna.
Lalu ribuan komentar bermunculan.
"MasyaAllah, perempuan hebat."
"Ini baru istri idaman."
"Inspirasi banget."
Aku tidak menyangkal bahwa mereka memang luar biasa. Tetapi, mengapa kita lebih sering memuji kemampuan perempuan memikul semuanya daripada bertanya apakah semua beban itu memang seharusnya dipikul sendirian? Bukankah kesetaraan seharusnya membuat beban menjadi lebih seimbang, bukan justru bertambah?
Di sinilah aku mulai merasa ada sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Jangan-jangan yang berubah hanyalah tuntutan terhadap perempuan.
Dulu perempuan "cukup" menjadi ibu rumah tangga.
Sekarang perempuan diharapkan sukses berkarier, tetapi tetap harus menjadi ibu yang sempurna, istri yang selalu siap, dan pengurus rumah yang tidak boleh lalai. Standarnya berubah, tetapi bebannya tidak berkurang. Justru bertambah. Ironisnya, kondisi ini sering dianggap sebagai hal yang wajar. Budaya yang masih menempatkan urusan domestik sebagai tanggung jawab utama perempuan membuat banyak perempuan merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi semua ekspektasi tersebut. Akibatnya, beban ganda bukan hanya menjadi kenyataan, tetapi juga perlahan diterima sebagai sesuatu yang normal.
Padahal, menurutku, kesetaraan tidak pernah berarti perempuan harus mampu melakukan semuanya sendiri. Kesetaraan bukan tentang membuktikan bahwa perempuan bisa bekerja sekaligus mengurus seluruh rumah tangga tanpa bantuan. Kesetaraan adalah ketika perempuan memiliki kebebasan memilih jalan hidupnya tanpa dihakimi. Kesetaraan juga berarti adanya pembagian tanggung jawab yang adil dalam keluarga, sehingga keberhasilan perempuan di ruang publik tidak dibayar dengan kelelahan yang hanya mereka tanggung sendiri.
Pada akhirnya, perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga layak dihargai. Perempuan yang memilih berkarier juga layak dihargai. Bahkan perempuan yang memilih keduanya pun layak dihargai, selama pilihan itu benar-benar lahir dari keinginan, bukan karena tekanan atau tuntutan sosial yang mengharuskan mereka menjadi "superwoman".
Penutup
Media sosial telah berhasil memperlihatkan banyak perempuan hebat. Namun, di balik foto-foto yang indah dan cerita-cerita inspiratif, ada pertanyaan yang menurutku perlu terus kita renungkan.
Apakah kita sedang merayakan kesetaraan, atau justru sedang mengagungkan kemampuan perempuan menanggung beban yang semakin berat?
Mungkin yang perlu diubah bukan semangat perempuan untuk terus berkembang, melainkan cara masyarakat memandang peran dalam keluarga. Ketika perempuan bekerja, tanggung jawab di rumah semestinya juga menjadi tanggung jawab bersama. Karena pada akhirnya, perempuan tidak membutuhkan gelar "superwoman" untuk dianggap berhasil. Mereka hanya membutuhkan kesempatan yang setara, ruang untuk memilih, dan pasangan yang mau berjalan berdampingan, bukan sekadar berdiri di belakang sambil bertepuk tangan.
Mungkin, saat itulah kita benar-benar bisa mengatakan bahwa kesetaraan telah tercapai, bukan ketika perempuan mampu melakukan semuanya, tetapi ketika mereka tidak lagi dipaksa melakukannya sendirian.

Gabung dalam percakapan