Pesan Pilpres Dari Amerika Untuk Indonesia

Oleh: Danang Pamungkas
Pemimpin Redaksi Rembangbercerita.com



Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tanggal 8 November 2016 lalu membalikkan anggapan para analisa politik dan lembaga survei yang memprediksi bahwa Hillary Clinton yang berpeluang besar akan menang. Banyak orang dari berbagai dunia dan warga Amerika sendiri terkejut dengan kemenangan Trump yang mengungguli Hillary Clinton yang di prediksi akan menang mudah dalam pilpres. Negara Amerika yang dikenal dengan simbahnya liberalisme dan pengagum pasar bebas ternyata mulai memikirkan kembali pentingnya proteksi negara terhadap pasar serta membangun lapangan pekerjaaan untuk warganya. Hilarry yang percaya bahwa pasar bebas dan liberalisme akan menyelamatkan Amerika dari krisis global, ternyata tidak begitu disukai oleh sebagian besar penduduk Amerika yang cenderung “muak” dengan slogan-slogan tersebut yang pada akhirnya membuat warga asli Amerika menjadi pengangguran.

Trump merupakan sosok yang kontroversial, ia beberapa kali membuat opini publik yang meyudutkan beberapa pihak terkait perubahan strategi politik Amerika apabila dirinya menjadi Presiden. Trump ingin membangun tembok disekitar perbatasan Meksiko terkait banyaknya kasus penyelundupan narkoba yang membuat rakyat Amerika menjadi masyarakat pecandu dengan angka yang selalu meningkat setiap tahun. Kemudian ia dengan terang-terangan ingin mengusir umat Islam dari Amerika karena dianggap mengganggu budaya nasional Amerika dan bahaya terorisme. Sementara kebijakan yang membuatnya disukai publik adalah ia ingin memberantas kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan untuk warga Amerika asli sebagai prioritas utama, serta mewajibkan perusahaan untuk membayar 10-15 % laba perusahaan untuk kebutuhan hidup masyarakat. Tentunya kebijakan ini jauh sekali dari paham liberalisme dan pasar bebas yang meghendaki pengakumulasian modal yang besar untuk kegiatan industri dengan prinsip efisiensi yang tinggi mencakup dihapuskannya peraturan yang menghambat investasi dan persaingan bebas tenaga kerja dari perbagai dunia untuk menjadi pekerja terampil yang siap pakai untuk perusahaan.

Dari berbagai peristiwa terkait ketidakmampuan negara mengahadapi ancaman pasar, Hal ini yang menyebabkan Trump mengusung jargon bahwa “Amerika bisa hebat lagi” dengan argumen bahwa Amerika telah jatuh karena ketidakmampuan rezim Obama dalam mengontrol pasar dan menciptakan kesenjangan ekonomi yang tinggi antara warga kelas menengah-elit dengan warga kelas bawah.

Visi-Misi Trump ini membuat kita kembali lagi pada argumen teori ekonomi klasik Keynesian yang menganggap bahwa negara harus dapat menjinakkan pasar, agar pasar tidak bermain bebas dan memonopoli perekonomian masyarakat yang menyebabkan ketimpangan sosial semakin meningkat, sehingga yang aakan terjadi adalah bahaya gerakan menurunkan pemerintahan. Asumsi teori keynesian adalah negara harus hadir ketika pasar sangat buas untuk memupuk kekayaaan bagi korporasi, sementara warga negara hidup miskin dan menjadi pengangguran. Dalam beberapa hal liberalisasi ekonomi baik ketika negara tidak mampu membiayai produksi dan proyek dalam negeri, karena hanya pemodal yang mempunyai kekuatan finansial yang bisa membantu visi-misi pemerintah dapat terwujud. Namun liberalisasi ekonomi menjadi buruk ketika pasar dengan kekuatan finansialnya menjadi pengadilan teringgi di sebuah negara yang umumnya bercorak demokratis untuk meminimalkan perannya dalam mekanisme perdagangan bebas. Liberalisasi ekonomi pada keadaan tertentu dapat membuat negara bisa bangkrut karena pelarian modal dari dalam negeri ke luar negeri ketika krisis sosial-ekonomi-politik sedang menjerat pemeritahan. Pelarian modal secara besar dalam waktu yang singkat akan membuat negara berada dalam situasi chaos dan terpuruk, hal in terjadi ketika krisis ekonomi pada saat pemerintahan Orde Baru di dekade 90-an. Seketika itu negara terkena inflasi yang tinggi karena banyak pemilik modal menarik uangnya dari dalam negeri ke luar negeri. Sehingga pada masa itu pemerintah kesulitan mengentaskan persoalan kemiskinan dan terpaksa harus tunduk kepada IMF yang meng-embargo perekonomian Indonesia.

Sungguh aneh apabila kita hidup di Indonesia melihat trend dan populisme ini ternyata membuat Trump terpilih menjadi Presiden. Bisa kita simpulkan bahwa Trump lebih pintar dalam memainkan emosi warga Amerika yang muak dengan globalisassi dan pasar bebas yang menyebabkan mereka tersingkir dari lapangan kerja. Warga kelas bawah Amerika membutuhkan negara untuk melindugi perekonomian dan menciptakan lapangan kerja baru agar mereka mampu memenuhi kebutuhan hidup. Ia mewakili harapan besar masyarakat Amerika yang ingin agar negara hadir kembali untuk mensejahterakan rakyat bukan negara yang membebaskan warga asing untuk mengambil rejeki mereka. Sentimen warga Amerika terhadap globalisasi dan terorisme yang terpendam lama semasa rezim pemerintahan Obama di kapitalisasikan oleh Trump menjadi kekuatan politik yang besar dan cukup untuk menutupi kekurangannya dalam hal pengalaman berpolitik.

Dalam hal berkampanye Trump dan Hillary mempunyai perbedaan yang kontras, Trump selalu tampil sendiri tanpa di dukung Partai Republik dan artis-artis Hollywood yang terkenal seperti lawannya Hillary Clinton. Ia lebih memilih berkampanye dengan ditemani istrinya ke seluruh negara bagian Amerika, berjumpa dengan massa dari berbagai penjuru dan lapisan sosial. Pendanaan kampanye Trump juga berasal dari kantong pribadi, ia menggunakan ucapan kontroversial dan meyakinkan bahwa ia mewakili kelas bawah Amerika yang merasakan ketimpangan sosial-ekonomi warga Amerika dengan warga asing pendatang. Sementara Hillary selalu berkampanye dengan artis-artis Hollywood, dengan dukungan kuat Partai Demokrat yang selalu menemani. Hillary menggambarkan dirinya sebagai perwakilan kelas menengah-atas Amerika yang membuat dirinya begitu percaya diri untuk memenangkan pertarungan.

Dari perbedaaan strategi dalam berkampanye ini ternyata menentukan kemenangan untuk merebut kursi Presiden Amerika. Trump merupakan politisi yang minim pengalaman, ia belum pernah menjadi seorang birokrat politik yang duduk di pemerintahan. Seorang pengusaha sukses New York yang dari awal pencalonannya tidak diunggulkan bahkan dianggap sebagai anomali politik Amerika. Namun ia sadar betul bahwa politik adalah perjumpaan massa untuk memobilisasi dukungan, politik bukanlah pertemuan antara elit dengan elit, dan hal paling penting adalah politik tidak semata hanya memperoleh dukungan para artis Hollywood.

Hillary yang dari awal muncul menjadi idola remaja kelas menengah-atas dan artis Hollywood menggunakan hal ini sebagai tumpuan utama strategi pemenangan. Warga Amerika terlihat sudah jenuh dengan keadaan sosial-ekonomi-politik yang tidak menentu, yang mereka butuhkan adalah kepastian masa depan dan keamanan negara. Strategi berkampanye ala-Hillary sudah tidak mempan lagi untuk membuat warga percaya bahwa ia benar-benar mampu membawa harapan baru bagi masa depan Amerika. Cara berkampanye yang elitis kurang mendapatkan simpati dari publik, sementara kebijakan yang ia buat apabila menjadi Presiden ternyata hanya akan melanjutkan kebijakan dari pemerintahan Barack Obama. Padahal warga Amerika membutuhkan hal yang baru dan perubahan radikal dalam kebijakan negara. Hillary seperti Obama, ia membuat program lama seperti penguatan pasukan NATO untuk mempertahankan perdamaian di dunia, bekerjasama dengan negara Cina dalam hal perdagangan dan keuangan, pentingnya liberlisasi tenga kerja guna mendukung produktifitas industri, dan kebijakan yang lebih halus terhadap sengketa dan perang di timur-tengah.

Trump memilih kebijakan yang radikal dengan menginginkan perubahan kebijakan luar negeri Amerika dan menggagalkan semua kebijakan dari pemerintahan Obama. Seperti keluarnya Amerika dari organisasi NATO, kebijakan yang lebih keras terhadap sengketa dan perang di timur-tengah, memutus hubungan dengan Cina dalam perdagangan dan keuangan, dan memprioritaskan tenaga kerja Amerika deripada liberalisasi tenaga kerja.

Dukungan besar warga Amerika terhadap Trump membuktikan bahwa sentimen nasionalisme dan proteksi negara dalam bidang ekonomi merupakan kebutuhan mendesak setiap negara maju maupun negara berkembang untuk berhati-hati terhadap situasi ekonomi yang tidak menentu yang di ciptakan oleh pasar. Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar seperti Amerika yang memainkan peranan besar terhadap globalisasi ekonomi, sosial, politik, dan budaya nyatanya membuat Amerika mengalami persoalan serius yang menyebabkan mereka harus terpuruk secara ekonomi dan menjadi sasaran kritik dari pelbagai negara di dunia terkait penanganan terorisme. Apalagi dengan persoalan budaya Amerika yang sudah terkontaminasi dengan banjirnya para imigran baik legal maupun ilegal yang membawa budaya dari negara asalnya ke Amerika, sehinga terjadi guncangan budaya terutama warga muslim yang selama ini di takutkan akan menjadi persoalan baru bagi Amerika. Islam “Phobia” di Amerika merupakan wujud dari kegagalan pemerintah dan negara dalam mewujudkan kedamaian dan kenyamanan hidup warganya, oleh sebab itu persoalan budaya nasional yang juga membuat Trump sukses mendapatkan kepercayaan dari pemilih.

Amerika sebagai negara adidaya dan adikuasa nyatanya takut dengan kebijakannya sendiri terkait globalisasi, bagi Trump inilah saat yang tepat untuk mengevaluasi segala dampak globalisasi bagi Amerika untuk membuat negeri ini hembat lagi. Kita sebagai warga Indonesia dan tidak begitu paham dengan jalan pemikiran Trump tentu akan mengkritiknya sebagai hal yang mustahil. Namun inilah keadaan yang sebenarnya terjadi, De-globalisasi dirasakan oleh warga Amerika dan terbukti kebijakan Trump yang menurut mereka terbaik untuk Amerika saat ini.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari hasil pilpres Amerika, bahwa politik adalah soal bagaimana memoblisasi massa dan perjumpaaan langsung dengan warga, politik bukanlah tempat sebagaimana panggung hiburan yang menampilkan artis-artis untuk berkonser dan mencari dukungan massa. Politik massa adalah adanya interaksi pemimpin dengan massa melalui artikuasi kepentingan ideologis, dan politik bukan untuk panggung hiburan. Sementara situasi di Indonesia berkebalikan, baik acara Pilkada maupun Pilpres calon-calon pemimpin kita selalu mengandalkan artis-artis untuk mendulang suara dan meramaikkan pesta demokrasi, ketiadaan perjumpaan massa dan kepentingan ideologis merupakan sandiwara yang sebenarnya mengecilkan makna asli politik yaitu untuk merubah keadaan ekonomi-politik disuatu negara. Bila politik hanyalah miliknya para artis dan politisi, maka politik sudah kehilangan identitas aslinya sebagai kekuatan transformasi sosial. Ketika masa pemilu semua partai politik di Indonesia selalu mengusung ideologi pancasila, namun apakah pancasila itu sebagai ideologi dalam berbangsa dan bernegara dalam mewujudkna keadilan ekonomi-politik bagi warganya? Kalau semua parpol mengaku ber-ideologi pancasila kenapa mereka tidak bersatu saja dan membangun kekuatan politik yang kuat, mengapa mereka selalu berbeda kepentingan dan bertengkar dalam membangun bangsa kalau semuanya pancasilais. Itulah pertanyaan yang harus kita ajukan untuk parpol dan politisi di Indonesia, sesungguhnya kejadian pilpres di Amerika seharusnya membuat kita lebih dewasa dan kritis terhadap perkembangan politk dunia saat ini.

Kekalahan Hillary merupakan bentuk dari elitisme dalam berkampanye dengan menggunakan artis Hollywood sebagai kunci untuk memenangkan pertarungan politik. Ternyata hal ini sudah tidak berlaku lagi bagi publik Amerika yang jenuh dan bosan dengan sandiwara politik, mereka membutuhkan kebijakan yang konkret untuk menaikkan derajat sosial warganya. Lalu bagaimana cara berpolitik di Indonesia? Tentunya artis-artis masih mendominasi menjadi juru kampanye dan Tim pemenangan dalam setiap pesta demokrasi di negeri ini, lalu sampai kapan makna politik direduksi terus-menerus sampai rakyat jenuh dengan situasi politik Indonesia yang tidak dapat mensejahterakan warganya. Mungkin di suatu saat nanti ada pemimpin seperti Donald Trump yang akan memenangkan hati pemilih sehingga kebijakan politik di Indonesia akan berubah total. Namun jangan hanya kita berharap pada ketidakpastian, tentunya kita harus memperbaiki cara berdemokrasi dan mengukuhkan kembali persatuan-kesatuan nasional untuk melakukan transformasi sosial guna merubah ketimpangan ekonomi dan persoalan kemiskinan di negeri ini. Pesan yang jelas dari pilpes Amerika untuk Indonesia adalah jangan berkampanye elitis menggunakan artis dan harus memulai perubahan besar walaupun itu dianggap mustahil. Hal yang dibutuhkan masyarakat Indonesia adalah kesejahteraan dan lapangan pekerjaan, oleh sebabnya harus ada kebijakan yang konkret untuk mengatasi persoalan, bukan hanya jargon politik semata.