Cerita Mbah Sariban Tentang Sedekah Bumi dan Rumah Joglo Pondokrejo

 


Penulis: Danang Pamungkas

Pemimpin Redaksi Rembangbercerita.com

Cerita ini saya ambil pada tahun 2013 lalu ketika saya melakukan penelitian mengenai Sedekah Bumi di Desa Pondok Rejo, Bulu, Rembang. Saya tertarik untuk menuliskan kisah ini karena jarang saya temui artikel yang membahas tradisi sedekah bumi dengan cara yang populer.

Sejak saya duduk di bangku sekolah dasar, saya selalu mengikuti kegiatan sedekah bumi di desa ini. Meskipun saya bukanlah warga Desa Pondokrejo, namun karena saya sekolah disana, ingatan akan tradisi sedekah bumi membuat saya rindu ingin kembali ke masa lalu. Desa Pondokrejo sangat asri, ladang persawahan masih terhampar luas karena mayoritas warganya bekerja sebagai petani. Ciri khas desa ini adalah luasnya halaman dipekarangan rumah, rumah warga juga sebagian besar berbentuk Joglo. Rumah Joglo merupakan rumah adat Provinsi Jawa Tengah yang berbentuk trapesium dengan ciri khas atapnya yang menjulang tinggi, dan berbahan dasar kayu jati yang sudah tua. Pada jaman sekarang Rumah Joglo mulai sulit untuk di temukan di desa-desa. Namun kalau kita mampir ke desa ini, kita akan melihat hampir seluruh rumah warga berbentuk Joglo.

Agar saya mendapatkan cerita yang valid, Saya-pun menemui Mbah Sariban, seorang yang dituakan oleh warga. Beliau sangat ramah dan baik hati mau menjawab apa yang ingin saya ketahui. Beliau bercerita layaknya pendongeng dalam cerita-cerita rakyat. Beliau diumurnya yang hampir menginjak 90 tahun masih sehat, dan bisa mengingat peristiwa dengan baik. Obrolan kami di temani kopi lelet sambil ngelinting tembakau di rumahnya. Asap-pun mengepul tak tertahan dengan canda tawa ketika Mbah mulai mengingat hal yang ia lupa.

Mbah bercerita bahwa desa ini dahulu bernama Pondoklondo (Rumah Belanda). Karena pada waktu itu ada orang Belanda yang membuat rumah dan hidup lama disini, orang Belanda itu juga mempunyai rumah yang besar. Rumah itu kemudian disebut dengan rumah joglo.

Nama Pondok Londo kemudian diubah menjadi PondokRejo oleh Bapak Haji Ngabdini sesepuh desa yang sudah almarhum. Warga desa hidup sederhana, kehidupannya hanya bergantung dari hasil pertanian.  Meskipun hidup sederhana warga Pondok Rejo rata-rata 70% rumahnya adalah joglo. Hingga pada tahun 2012 ketika diadakannya lomba rumah Joglo se-Jawa Tengah, Desa Pondok Rejo mendapatkan juara satu. Sebagai hadiahnya, Pemprov membuatkan rumah joglo yang besar dan megah untuk kantor Pemerintahan Desa. Bagi Mbah Sariban mendapatkan juara 1 tingkat provinsi adalah prestasi yang membanggakan bagi warga desa. Beberapa warga menyebut bahwa rumah joglo yang di bangun Pemprov Jateng itu senilai 1,5 milyar.

 Mbah apa perbedaan Rumah joglo dengan rumah biasa, dan apa istimewanya Rumah Joglo? 

Rumah joglo adalah rumah yang bagian kepalanya tinggi ke atas. Ciri khasnya tiangnya/kayu rumah itu panjangnya sekitar 25 trip/cm di tumpuk setinggi mungkin atau semampunya dengan kayu jati yang sudah berumur puluhan tahun.  Warga Pondokrejo walaupun kehidupannya sederhana tetapi mereka mempunyai prinsip hidup, kalau mereka belum mempunyai Rumah Joglo, maka mereka akan selalu berusaha untuk membangn rumah joglo. Mempunyai Rumah Joglo bagi warga desa adalah suatu kebanggaan, karena yang bisa membangun rumah joglo di anggap sebagai orang kaya. Karena cara membuat rumah joglo itu cukup mahal. Cara membangun rumah joglo di tentukan oleh sesepuh desa yaitu pada hari kamis legi/ahad kliwon.” Ucap mbah dengan bahasa yang halus namun lugas.

Mbah-pun kembali bercerita panjang lebar mengenai tradisi adat, dan pertanian. Saya-pun diajak oleh melihat ternak sapinya yang mulai besar. Saya pun ikut mengelus-elus sapi mbah yang baru melahirkan dua anak.

Acara sedekah bumi di desa Pondok Rejo berlangsung secara turun temurun sejak leluhur zaman dulu, hingga sekarang. Menurut Mbah, sedekah bumi adalah acara syukuran atau ungkapan rasa syukur masyarakat kepada sang pencipta karena panen padi yang melimpah. Upacara ini wujud rasa syukur warga desa kepada alam dan sang pencipta agar lebih dimudahkan rejeki, panjang umur dan selamat di dunia. Dalam acara tersebut warga desa membuat makanan khas jawa seperti dumbek, tape, dan gemblong. Setiap makanan yang akan disajikan dalam perayaan sedekah bumi, harus dibungkus dengan daun pisang untuk dikirimkan ke gubuk sebagai sajian makanan untuk suami yang sedang bekerja maupun tetangga yang membantu jalannya panen di sawah.

Mbah bercerita bagaimana adat sedekah bumi mewajibkan  semua warga membuat nasi dan bungkus dengan ambeng. Prosesi selanjutnya adalah warga berkumpul di sendang untuk berdoa kepada sang pencipta yang telah memberikan kelimpahan rejeki dan suksesnya panen yang diperoleh petani. Sendang adalah sumur yang diapit oleh dua pohon yang besar/ kayu besar yang kuat. Pada zaman dahulu Sendang digunakan sebagai tempat beribadah sholat, sebab dahulu kala belum ada masjid untuk menampung warga sholat berjamaah.

Adat sedekah bumi sampai saat ini masih dilaksanankan oleh warga masyarakat, karena menurut warga desa, sedekah bumi adalah acara adat yang harus dilestarikan, karena hal itu sudah berlangsung secara turun-temurun.

Namun menurut Mbah, kendala acara Sedekah Bumi adalah lingkungan sendang yang sering becek saat hujan, sehingga pementasan seni Ketoprak dialihkan ke rumah pribadi warga. Ketoprak merupakan hiburan warga saat adanya sedekah bumi. Pentas Ketoprak ini biasanya juga diikuti oleh tetangga desa, anak muda dari berbagai kecamatan pun boleh datang. Hal yang sangat saya sukai dengan adat sedekah bumi adalah saya bisa makan sepuasnya di rumah warga. Karena setiap orang yang ada di jalan wajib mampir untuk menikmati sajian makanan. Makanan sangat lezat, ada ayam goreng, daging sapi, tempe, kerupuk, dumbek, kupat, ceriping, pisang, nangka semuanya ada. Apalagi kalau saya di suruh mampir ke tempat teman, pasti saya mengambil banyak makanan untuk di bawa pulang ke rumah.

 “Kenapa acara mengumpulkan warga itu harus menggunakan media Ketoprak Mbah?”

“Supaya semua warga bisa berkumpul, karena hampir semua orang menyukai Kethoprak. Sehingga kawan satu desa biar bisa bertemu.  Karena Kethoprak sebagai pengganti surat undangan. Melalui acara kesenian ini diharapkan persatuan antar warga masyarakat  lebih erat sekaligus berdoa agar di desa tidak ada bencana.

Acara sedekah bumi ini biasanya dilaksanakan setahun sekali yaitu sesudah panen padi, yang biasanya dilaksanakan pada hari rabu pon. Pemilihan hari rabu pon ini sesuai dengan tradisi turun-temurun dari leluhur desa. Tetapi sebelum melaksanankan tradisi sedekah bumi warga desa sebelumnya harus melakukan beberapa prosesi acara.

Pertama, upacara wiwit panen atau yang di sebut dengan Upacara Dewi Sri, tujuannya untuk menghormati padi yang mau di panen. Tata caranya, warga menyiapkan telur, sambal, terong, gereh, kacang untuk selametan. Orang yang mau memanen padi terlebih dahulu menyiapkan orang-orang terutama perempuan yang mau dipekerjakan menyiapkan ani-ani untuk memotong padi, setelah itu padi ditali menjadi lima dalam satu ikatan. Empat padi untuk yang mempunyai sawah dan satu padi untuk yang bekerja. Pelaksanaan upacara ini ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang memikul padi dari sawah, setelah itu disimpan dalam gubuk. Sementara perempuan membuat makananan untuk laki-laki. Setelah selesai memikul padi, tetangga, pekerja, dan pemilik sawah bersama keluarga makan besar bersama-sama. Kegiatan selanjutnya yaitu membuang daun padi yang sudah diambil bijinya, setelah itu daun kering ditali lalu ditumpuk dalam lumbung padi. Lumbung ini fungsinya untuk menyimpan pakan ternak untuk sapi. Apabila daun padi di lumbung tidak ada yang mengambil, maka lumbung itu akan dibiarkan sampai para petani membutuhkan daun padi untuk pakan ternaknya. Upacara ini ditujukan untuk meminta perlindungan kepada “Gusti Kang Aryo Jagat” supaya tanamannya mendapatkan panen yang melimpah dan tidak diganggu oleh setan. Setan ini menurut orang Pondokrejo adalah Saleh Saluman, ia setan yang menggangu tanaman padi warga. Rata-rata yang mengadakan Upacara Dewi Sri adalah orang-orang kaya yang biasanya memiliki lahan sawah luas dengan hasil panen melimpah. Setelah acara Upacara Dewi Sri selesai, disambung dengan acara, Ngalungi Sapi.

Kedua, Upacara Ngalungi Sapi adalah upacara mengumpulkan sapi untuk diajak berpiknik ke pasar. Sebelumnya warga harus membuat 44 kupat untuk meminta maaf kepada sang pencipta. Karena menurut warga, saat menggarap sawah petani selalu mencambuk sapi, agar sapi cepat bekerja menggarap sawah. Sehingga warga meminta maaf kepada sang pencipta karena sudah menyakiti ternaknya dengan membuat 44 kupat yang menurut orang Jawa, jumlah 44 itu artinya cepat. Sehingga agar doanya cepat dikabulkan warga membuat 44 kupat. Acara ini harus dilaksanakan dengan dua kupatan dan dua ngalungi, maksudnya adalah tiap panen dua kali warga harus membuat acara ngalungi sapi juga selama dua kali. Setelah panen padi warga merayakannya di sendang. Teknis pelaksanaan acara ngalungi sapi yaitu dengan menggunakan 44 kupat diusapkan ke badan sapi sampai 3 kali. Setelah panen, sapi warga diajak jalan-jalan ke Pasar Kerikilan kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. Tujuannya agar sapi tidak tersiksa, sapi juga harus merasakan kebahagiaan seperti manusia. Manfaatnya kegiatan ini menurut Mbah, yaitu sangat membahagiakan warga dan ternak mereka.

Dalam prinsip hidup warga Pondok Rejo, bila orang mempunyai banyak ternak berarti dianggap sebagai orang kaya. Karena hewan ternak memberikan rejeki yang banyak kepada pemiliknya, kalau orang yang tidak mempunyai sapi berarti dianggap orang biasa.” Ucap Mbah sambil menyeduh lintingan tembakau.

  Apakah ada  kendala terkait acara ngalungi sapi ini mbah?”.

   “Hambatan acara ngalungi sapi adalah janur, Karena jaman sekarang sulit sekali menemukan janur, sehingga warga masyarakat harus membeli janur dengan harga yang mahal di pasar. Setelah acara ngalungi sapi barulah acara adat sedekah bumi”.

Ketiga, Acara Inti Sedekah Bumi. Acara sedekah bumi biasanya terjadi setelah 3 hari panen padi. Kemudian moden/menteri desa, memimpin doa untuk mendoakan desa agar terhindar dari mara bahaya sekaligus bersyukur atas panen padi yang sukses. Selanjutnya, warga menanggap hiburan kesenian ketoprak 1 hari 1 malam diselingi kegiatan khajatan kupatan membawa serta ternak sapi yang digiring ke sendang. Di tempat itu semua warga berdoa untuk keselamatan desa.

Saya teringat waktu SMP, ada guru saya yang mengatakan bahwa sedekah bumi itu haram di lakukan. Karena sama saja dengan mempersekutukan Tuhan dan Agama Islam. Saya-pun memberanikan bertanya pada Mbah terkait hal ini.

Mbah apakah ajaran Islam memperbolehkan kita melakukan sedekah bumi apa itu tidak haram?”

“Sedekah bumi dan ajaran Islam itu jangan dipersoalkan, meskipun sedekah bumi pelaksanaannya itu selalu membuat sesaji di tempat-tempat yang menurut warga sakral, itu hanya untuk melestarikan kebudayaan leluluhur, bukan sebagai pemujaan kepada mahkluk gaib. Kami hanya melestarikan budaya saja. Kalau  kita tidak melestarikan budaya, lalu siapa lagi.”

Mbah berkelakar dengan cerdas, saya takjub dan kaget mendengar jawabannya. Dari observasi kecil-kecilan ini saya belajar bahwa memang benar, Islam dan acara sedekah bumi jangan di pertentangakan karena itu merupakan keunikan yang dimiliki oleh masyarakat desa. Setelah menyeduh kopi sampai habis, saya-pun berpamitan dengan Mbah. Ia tersenyum saat saya menstater motor. Saya merasa sedih bercampur bahagia, Mbah memberikan pengetahuan baru yang tak mungkin kudapatkan kalau hanya belajar di sekolah, apalagi hanya mendengar ceramah dosen!