Jadi Petani Itu Susah! Jangan Seperti Simbah


Penulis: Aditiya Rohmatul Huda

Pelajar MAN 2 Rembang


Nak, sekolah yang pintar biar nggak kerja seperti Mbah.”

Ucap kakekku, yang berprofesi sebagai petani.

Aku bingung dengan maksud ucapan Kakekku. Apakah Kakek sudah malas bertani? Apakah uang hasil bertaninya sudah tak sanggup membeli kebutuhan ini dan itu? Ataukah Kakek tak ingin aku meneruskan profesinya sebagai petani?

Kalau memang alasannya karena masalah ekonomi hingga membuat Kakek tak sanggup membeli sembako, itu tidak mungkin. Karena aku lihat sendiri, Kakek selalu hidup dalam ketercukupan. Mau makan ayam ya ada, telur ada, sayur-sayuran ada, apalagi padi. Ah, sudah barang tentu Kakek punya semua itu.

Bukan hanya itu. Mau beli TV juga mampu, beli motor keluaran terbaru juga mampu, beli sandang, papan, pangan juga mampu.

Namun aku tetap bingung, apa maksud Kakek menyuruhku agar jangan jadi petani?

Suatu malam, Kakek mengungkapkan alasan di balik ucapannya itu. Katanya,

“Jadi petani itu susah, Nak. Mau cari bibit ribet. Mau beli pupuk harus punya kartu tani, harus memenuhi persyaratan dari A sampai Z. Nguras tenaga banyak. Belum lagi ngurusin hama tikus dan kawan-kawannya. Singkat kata, semuanya sulit. Eh, malah kadang hasil panennya nggak memadai. Kadang harga jual murah, kadang gagal panen, kadang panennya jelek. Hasilnya saja untuk mbalek modal sudah alhamdulillah, apalagi dapat laba.”

Aku terdiam.

PETANI, katanya singkatan dari Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Ada juga yang mengatakan bahwa petani itu sayyidul bilad (pemimpin bangsa). Masak seorang pemimpin malah sengsara? Masak yang katanya penyangga malah hidupnya serba struggle?

Aku akhirnya jadi kepo dan ingin mencari tahu sendiri, apa sih sebenarnya permasalahan pertanian di 

Indonesia?

Malam itu aku menonton film dokumenter tentang masalah agraria. Kalau nggak salah judulnya “Silat Tani”. Ah… betul sekali, itu judulnya.

Jujur, aku ini pemuda yang tak tahu-menahu tentang tanah, sawah, ladang. singkat kata, tentang pertanian.

Di film itu aku jadi tahu alasan para anak muda berbondong-bondong pergi ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan. Mereka tak ingin meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai petani.

Saat aku tanya salah satu temanku yang nekat merantau ke ibu kota, jawabannya cukup membuatku tercengang. Katanya,

“Bertani itu pekerjaan kuno, ketinggalan zaman.”

Ada juga yang berkata,

“Gimana mau hidup tajir melintir kalau kita cuma bertani? Kamu kan tahu sendiri, keuntungan bertani itu nggak seberapa,” ucap salah satu temanku yang lain.

Kalau dipikir-pikir, betul juga ya...yang diomongkannya  itu, 

batinku.

Film itu seakan-akan membuka tabir kedunguanku mengenai desa dan pertanian. Film itu menjelaskan betapa sulitnya hidup dari hasil bertani. Para aktornya bukan artis papan atas yang kerap berseliweran di televisi, melainkan sekelompok jurnalis yang ingin menelisik lebih dalam dengan melakukan peninjauan langsung ke desa-desa.

Wawancara dilakukan dengan para petani padi, tengkulak, hingga pedagang beras di pasar.

Sungguh sangat menyedihkan nasib petani.

Masak, padi yang dirawat dari kecil hingga siap panen—yang memerlukan waktu kisaran 3–4 bulan—hanya laku terjual Rp4.000–Rp6.000 per kilogram. Kan sangat menyedihkan!

Itu pun masih dalam wujud gabah atau beras mentah. Nanti oleh tengkulak diproses lagi, lalu dijual ke pasar dengan harga kisaran Rp8.000–Rp10.000 per kilogram. Wah, masak selisih harga dari petani ke tengkulak bisa sama-sama Rp4.000? Sungguh tidak adil. Petani kerjanya setengah mati, disamakan dengan tengkulak yang hanya bermodal abab.

Belum lagi ketika sampai di pedagang pasar, harganya dinaikkan lagi menjadi Rp13.000–Rp16.000 per kilogram.

Ironisnya, saat tim film mewawancarai salah satu petani di Wonosobo, petani itu berkata,

“Walah, kadang malah nggak dapat untung apa-apa, Mas.”

Nasib petani sungguh memprihatinkan. Mengapa? Bayangkan kalau kamu kerja tapi nggak dapat apa-apa. Marah nggak kira-kira? Sudah berjuang setengah mati, eh… dapat upah cuma buat bertahan supaya nggak mati.

Anehnya, ketika harga beras sedang berada di posisi yang menguntungkan bagi petani, pemerintah malah mengimpor beras dari luar secara besar-besaran, lalu dibenturkan dengan beras petani lokal agar tidak terjadi inflasi.

Bukan hanya itu. Menurutku, alasan yang membuat anak muda enggan bertani juga karena pendidikan.

“Sekolah hanya mengajarkan kita untuk pergi, bukan pulang.”

Itulah kata-kata yang pernah dilontarkan oleh salah satu guru Sekolah Dasarku.

Sejak kecil kita sudah kehilangan rasa cinta pada kampung halaman. Mari kita refleksikan dan tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa cita-citamu waktu kecil?

Mungkin sejak kecil kita berangan-angan ingin jadi pilot, polisi, TNI, dokter, bidan, guru, pengusaha, dosen, hingga presiden.

Tapi adakah yang menjawab, “Cita-cita saya ingin jadi petani, Bu?”

Ada? Jelas tidak.

Sejak kecil kita sudah berpikir bahwa sukses itu harus jadi ini-itu. Harus hidup mewah di kota, punya mobil, punya ART. Sekolah mengajarkan bahwa makmur dan mulia itu bekerja di kantor, bukan berdaya di tanah sendiri.

Sehingga kita pun kehilangan rasa mencintai dan niat untuk bertani.

Itulah kesalahannya.

Kesadaran bertani harus ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan sekolah, keluarga, desa, hingga negara. Bertani itu sangat penting. Mau jadi apa negara ini kalau tak ada petani? Mau jadi apa negara ini kalau generasi mudanya enggan jadi petani?

Bertani adalah tanggung jawab kolektif. Dan kemakmuran sektor pertanian hanya akan terwujud apabila elemen masyarakat, dari bawah hingga atas, sama-sama mendukungnya.