Menjala Dosa di Persimpangan Jalan

 

                             Penulis: Ayu Lestari

                        Founder Daily Sastra Rembang


Rintik hujan mengalun. Setiap bulirnya menetes di tanah. Angin semerbak mengarahkannya pada udara dingin yang merasuk ke dalam rongga-rongga. Cuaca begitu kelabu, muram dirundung pilu. Semuanya terkesan rintih. Derasnya menghalangi mata untuk menatap bukit. Sementara itu, burung-burung tampak berkicauan, sayapnya mengembang mengerami anaknya. Mulutnya tidak berhenti bercericit menambah kesan syahdu hari itu.

"Melamun saja kau di sini, Dir." ujar ibu membuyarkan lamunannya.

Dusun Sampir masih menjadi tambatan hatinya. Semua warga makmur. Tidak pernah terjadi paceklik. Jika pun ada, hanya satu kali musiman saja. Mayoritas warganya adalah petani sejati. Selebihnya pegawai luar kota. Nadir masih ingat apa kata Aryo. Dahulu, di bawah Pohon Randu mereka duduk berdua berbincang tentang Indonesia Raya. Dimana masih banyak pohon besar meringkuk di terik siang, angin sepoi-sepoi. "Andai Bang Rowi tahu ya, Bu. Dia pasti senang. Apalagi Dusun Sampir masih bagus seperti zaman dahulu," Imbuh Nadir.

Ibu tak bergeming. Helaan napas panjang mengerubungi telinga Nadir. Mulut ibu yang sedikit terbuka tanpa ingin bersuara. Seperti memberi isyarat bahwa, apa yang dikatakan Nadir benar adanya. Tak berselang lama, hujan mengguyur Dusun Sampir. Kilatan petir kecil menyambar sawah disamping rumah.

"Apa yang kamu tahu belum tentu benar, Nadir." tutur Ibu Ratih.

"Maksud ibu apa?" Nadir mencari jawaban selanjutnya dari bola mata sang ibu. Sudah lama ia tidak menatap lama ranum bola mata itu. Lagi-lagi hanya senyum kecut yang ia dapatkan.

Namun sontak ibu melanjutkan perkataanya, "Kamu temui Aryo saja."

lagi-lagi Aryo. Ada apa dengan Aryo, apa yang dia tahu tentang Bang Rowi, apa rahasia yang masih disimpan rapat-rapat dari ibu, kenapa harus Aryo? seketika itu ibu memalingkan wajah dan pergi. Sejenak aku menikmati bayangan ibu yang hampir tak terlihat.

Sore itu, udara masih terasa sejuk. Kunang-kunang masih enggan berdatangan. Bambu berderit ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak angin. Mata Nadir masih mencari batang tubuh Aryo, dari kejauhan terlihat sosok tegap tinggi kerkumis tipis berambut ikal. kulitnya sawo matang mengkilat membuatnya terlihat manis, ah. apalah aku ini.

"Nadir bukan?" Tiba-tiba dari kejauhan ia mengulurkan tangannya kepada Nadir.

Secangkir kopi panas mendarat ke meja, Nadir yang masih kikuk memulai pembicaraan darimana, "Kamu adiknya Rowi kan ya. Wah. sudah besar rupanya. aku masih ingat waktu kecil Kamu suka main gali-gali tanah sama anak-anak seusiamu. hahaha lucu sekali. Ini kopinya diminum, nanti keburu dingin."

Nadir menurut, ia hanya bisa tersenyum dan menghirup kopi yang sedang dihidangkan Aryo. Ingatan itu kembali lagi. Cerita tempo lalu. Kakaknya yang kerap setiap hari membeli jajan dan es cekek rasa cokelat kesukaanya. Setiap sore dia bermain bersama Rowi beserta teman-temannya, salah satunya Aryo, "Iya, aku masih ingat, Mas." ucap Nadir.

Namun tiba-tiba ia mencoba mendekati dan berkata, "Kau ke sini pasti karena ibumu bilang kalau surat kakakmu ada di aku kan, Nadir?" lirih Aryo

Senyum khas yang memperlihatkan gigi kelinci dan kumis tipis mengembang itu pun membuat Nadir malu sambil mengangguk pelan, "Kamu bawa saja kertas itu. Kamu berhak atas surat itu. Tapi maaf, kalau aku sudah  lancang membacanya terlebih dahulu,"

Melihat dan menggenggam sepucuk kertas membuat hati Nadir berkecamuk. Pertanyaan demi pertanyaan masih mengendap di pikirannya, semenjak ia kuliah di luar kota, semua kabar baik maupun buruk dari Dusun Sampir tidak pernah ia tahu. Nadir tak lekas mengiyakan. Kertas itu masih kelu. Mata Nadir menatap sepucuk kertas yang sudah berbau rayap serta menyengat di sekujur kertasnya, "kenapa tidak segera dibaca. Cepat bacalah. Supaya kamu tidak penasaran,"

Kata-kata dari Aryo terus menggema. Tapi tidak mungkin aku membaca tanpa penafsir, sontak Nadir menggamt baju lengan si pria hitam Manis itu, "tolong temani saya baca kertas bau ini, Mas. Berkenan kah?"

"Oke,. Mau baca di mana?"

Nadir mantap menunjuk Taman Puring. Ribuan hektar kebun kelapa hijau, dan pohon buah cokelat hasil petani Dusun Sampir itu hanya tersisa sebagian. Zaman dahulu, tempat itu menjadi tempat bernaung semua hewan lindung dan semak-semak belukar segar kerap digunakan pangan sapi dan kerbau, tapi sayang. Taman itu terlihat kering kerontang usai terbakar api.

"Sebelum bertanya kondisi di taman puring saat ini, sebaiknya kamu baca dulu paragraf pertama di surat itu," ujar Aryo sambil minum kopi yang sempat ia bungkus dari warung Pak Rudi.

Nadir mengingat ucapan Rowi sebelum ia meninggalkan Dukuh Sampir 'buang semua kebodohanmu. Karena menjadi bodoh adalah suatu kemunduran'. Apakah semua kemunduran itu ada padanya? Dan nasihat itukah yang mendurjanakan Rowi ?

"Kok buram tulisan ya, Mas. Susah untuk kubaca."

"Mari ku bantu." Aryo menjawab.

Di kesempatan itu, segerombolan manusia berkumpul. mereka bergumul hinga melintasi pikirannya sendiri. Melewati batas, hingga semua yang buruk disulap menjadi suci. Raut wajahnya berseri-seri, nampaknya kabar burung menguntungkannya.

"Sedari dulu aku sudah yakin, bahwa semua ini akan berhasil. Benar begitu, Lik?" Tak diingat punya anak istri, tak diingatnya dosa kecil dosa besar, toh juga Allah maha welas asih. Aku tidak ingin terlalu kaya, cukup kaya saja. Setumpuk uang lembar berwarna merah muda menyala ku peras jadi berlipat ganda. Bawahanku menggandakan semuanya hingga beratus ratus juta.

"Jadi berapa, LIk.?"

"225 juta." jawab Halik.

Kami bersorak sorai mendongakkan dagu. Tidak mengapa, warga tidak akan tahu. Aku akan menjual semua lahan kebun milik keluargaku. Kebun biji pala dan tumbuhan cokelat segera aku jual, " Tugasmu, bagi dengan semua Ketua RT RW mu. Biar mereka tidak curiga dengan aksi kita."

Halik mengangguk, pria pongah perut buncit sedikit begah itu menghela napas penuh bahagia. Dan akhirnya, semua RT RW gembira dan berstuktur. Semua ini dianggap sebagai rezeki nomplok.

"HAHAHA. Kalau begini kan bisa jadi licin jalan kita jadi kaya dan tambah pangkat bos."

Dua pekan berselang, waktu iuran kas Dusun Sampir. Warga tak ada timbul khawatir apalagi berprasangka buruk. Setiap kepala keluarga wajib mengeluarkan seratus ribu rupiah.

"Ini, Bang Rowi. Iuran kasnya. Semoga wakaf masjid di dusun ini cepat selesai. Biar tidak jauh-jauh ke dusun sebelah."

"Siap," jawabnya dengan mantap.

Sore menjelang, Rowi siap-siap menuju rumah Zayid. Tokoh terkenal sekampung Dusun Semilir. Asetnya yang menggunung dan kekayaan yang tiada tara membuat Rowi harus berguru padanya. Zayid adalah salah satu pengusaha timah. Sebagai investor prioritas negara, ia kerap membagikan setengah bagi hasilnya kepada mitra-mitranya.

"Kau ingin bergabung nih, Wi? mau ku modalin berapa ratus?"

"Seratus juta, sepertinya ajib, Bang." Keduanya berjabat tangan. Tidak butuh waktu lama, Zayid mengeluarkan tumpukan tebal berupa uang dari belakang sakunya

"Ini uang aku dapat dari perusahaan timahku. Lumayan banyak, Kau atur saja, Wi. Jangan sampai ketahuan. Kalau sampai tertangkap basah, runtuh semua citra baik kita."

Dengan tangan gemetar dingin, aku menerimanya. Aku melihat mata kemenangan. Mana penuh kekayaan. Harta harta harta. AKU AKAN KAYA!

Nadir terdiam agak lama, sontak Aryo berdehem lirih, "masih bisa dilanjut."

"Masih, Mas," suara itu agaknya tersengal-sengal.

 Akhirnya Rowi menuju ke suatu tempat, tidak begitu asing. Warga sering hilir mudik mencari sesuatu untuk dijadikan buah tangan yang manis dari tanah suci.

"Kang Rohib?"

"Eh, Bang Rowi. Bagaimana kabar antum? Masya Allah sudah lama kita tidak berjumpa."

"Jadi begini, ngomong-ngomong aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku hanya ingin menitipkan sebagian hartaku untuk usahamu. Anggap ini semua hibah dariku. Tolong Dari uang ini,aku percayakan kepadamu untuk membagi uang ini ke penjual UMKM yang lain."

"Allahu Akbar! Saya tidak mimpi ini? Uu.....u..uang sebanyak ini. Ya Allah. Masya Allah. Alhamdulillah."

"Dasar penjilat ulung! Aku tahu kau tak kalah naif, Haji Rohib. Hajimu yang berkali-kali hanya untuk kesenangan duniawi. Rasakan saja, nanti kau yang akan masuk ke bui, sementara aku akan tetap aman sentosa," batin Rowi.

Namun malang tak dapat direkayasa. Surat panggilan mendarat ke rumah, sialnya yang menerima adalah Derba, kakak kandungku.

"Derba? Ibuku?"

"Sedikit lagi, selesaikan dahulu. Baru nanti kujelaskan."

Seketika kedua mata Nadir berurat tegang dan berair, dia menggenggam sangat kuat surat panggilan dari polisi itu, menungguku pulang dari kantor desa. Aku yang melihat raut wajah itu Dari kejauhan hanya bisa membisu, jantungku berdegup lebih kencang, "Ada apa, Mbak?"

KEPARAT!!! Kamu tega jual semua lahan peninggalan ibu! asal kau tahu Rowi, aku hanya bisa mengandalkan hasil panen kebun untuk bayar kuliah keponakanmu. NADIR!"

"Dengarkan dulu penjelasanku, Mba......." Tiba-tiba, denging suara dari gendang telinga datang, Aryo refleks menepuk bahu Nadir, "Dik Nadir bangun. Dik. Hei! Nadir. Nadir. Bangun."

Perlahan ia menyahut parau, matanya sedikit terbuka. Bibirnya berubah pasi, "Jadi selama ini benar, ibu selalu nyekar dikuburan tanpa nisan dan keberadaan pamanku sampai saat ini tidak ada kabar," tuturnya

"Iya. Rowi sudah meninggal sebelum kamu wisuda. Dan semua ini adalah saksi jejak terakhir sebelum ia tersedak hati ampela di hajatan Mak Karso setelah melakukan pencucian uang di rumah Kang Zayid."

"Dia mati tersedak hati ampela?"

Disaat itu pula, jasad Rowi ditemukan membusuk bersama dengan jeroan yang masih tertancap di kerongkongannya.