Ambang Waktu
Oleh: Ayu Lestari
Founder Daily Sastra Rembang
Aku melihat suasana teduh langit sore hari di halaman rumahku. Dari jarak tiga jengkal dari halaman, terlihat pohon yang rimbun dan selalu tumbuh buah hijau segar yang senantiasa terikat bersama angin dan tanah subur, serta udaranya menahan segala kepiluan sebelum ambang waktuku hendak terlewati. Pohon Alpukat masih tegak berdiri. Setiap pekan buah itu selalu tumbuh gurih dan lembut. Tak ayal banyak musang mampir untuk mengigigit separuh dagingnya. Aku tidak pernah risau, diriku masih meletakkan semua pertanyaan mengembun di kedua lesung pipi.
“Sayang, andai engkau tahu. Seberapa berat dunia yang harus kukayuh. Bahkan pekatnya deru suara jangkrik tidak bisa menghalau kegaduhan didalam pikiran.” Seperti bulan Juli tahun lalu. Getah dari batang pohon itu membekas dan mengangga penuh dengan segala memori.
“Sudah sebulan mama murung bermuka pasi. Ayo, Ma. Mama harus bangkit. Tebang saja pohon itu. Lalu hasilnya kita jual untuk pindah rumah, dan menata hidup selayaknya papa pernah berpesan kepada kita untuk tetap tersenyum dan bersyukur apapun kondisinya,” tandas Arsa.
Mamaku sangat berat hati meninggalkan pohon itu, apalagi untuk menebangnya. Sungguh, semua memoriku bersama pohon tua itu, ia berkata, “Trias, Aku teramat rindu. Mengapa kamu pergi begitu cepat, sayang.”
Arsa menghela napas dalam sambil membenarkan kacamatanya yang miring. Hatinya masih sedikit bingung, namun sama-sama merasakan sakit yang dirasakan mamanya. Arsa melihat di atas pohon ada satu buah alpukat yang ranum berwarna hijau kekuningan. Ia langsung memanjat, memetik, lalu membelahnya menjadi dua.
“Lihat, Ma. Buah alpukatnya matang. Arsa petik lalu kubuatkan jus ya,” Aku hanya mengangguk pelan dan berbalik badan.
Waktu bergulir kian cepat. Ingatanku muncul kembali. Suasana hangat masih merajam di sekujur tubuh. Suasana rumah bernuansa warna merah dan kuning berhias lampion kesukaan anaknya bergelantungan. Begitu tenang dan menenangkan. Keluarga mungil itu sedang berbahagia menanti waktu bersama.
Tak disangka, kerusuhan beberapa tahun silam itu bergumul di dalam rumah.
Berbagi tugas pekerjaan rumah selalu kami lakukan. Tidak ada bau-bau patriarki di rumah. Semua berbagi tugas. Menyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring, menyetrika, melipat baju, hingga lap-lap kaca dan beberapa perabotan rumah.
“Papa berangkat kerja dulu, sayang. Nanti jangan lupa ajak Trias. Kita makan-makan enak di Warungnya Jeng Marsih,” ucap Trias sambil mengecup keningku.
Dari seberang, Arsa mendengarkan percakapan mama dan papanya, “Jeng Marsih itu siapa, Pa?” Sambil mengernyitkan dahi.
Papa tersenyum lalu berkata, “Ibunya Nami. Kamu manggilnya Ibu Marsih.”
“Ooooo,” jawab Arsa.
Mobil jazz klasik miliknya dinyalakan. Aku dan Arsa menunggunya di depan pagar. Tempat kerja suamiku tidak jauh dari rumah. Sebelum berangkat, aku tetap memeriksa barang-barang kerjaanya. Kehangatan yang begitu dalam. Tidak pernah aku sekhawatir ini melihatnya keluar rumah. Ada apa Tuhan.
“Kamu kenapa memandangku seperti itu” Sakit?”
“Oh. Tidak. Aku hanya ingin melihatmu sampai ke ujung gang sana.” Ingatanku masih tertuju pada kaleng hitam depan rumah.
“Tidak biasanya kau seperti ini. Tenang, aku baik-baik saja. Tunggu aku kembali ke rumah ya.”
“Oke papa. Arsa tunggu ya. Aku juga mau ngerjain PR dari Bu guru dulu nih.” Sahut Arsa.
“Sip. Kamu memang anak rajin.”
“Tentu saja.”
Rembang-remang cahaya kunang-kunang bertebaran hangatnya kecil namun lumayan menghangatkan suasana waktu itu sungguh tenang keluarga mungilku berbahagia dan sama sekali tidak terlihat akan adanya huru-hara yang menyertai.
“Papa berangkat dulu, ya. Ingat, tadi kita sudah berbagi tugas. Nanti setelah papa selesai pulang kerja kita makan di warungnya Jeng Marsih.”
Arsa mengeringinkan dahi, “siapa itu Jeng Marsih, Pa?” papa tersenyum lalu berkata, “itu ibunya Nami. Kamu manggilnya ibu Marsih.”
Tetanggaku itu unik Jeng Marsih adalah salah satu tetangga yang baik dia tidak membedakan tetangga yang beretnis apapun ia malah kerap bertukar resep kepada mamaku orang pribumi Jawa itu suka memakai kebaya rambutnya ikal postur tubuhnya tegap seperti polwan kulitnya eksotis dan walaupun usianya sudah berkepala lima. Ia masih terlihat bugar bersama salah satu anaknya yang sudah berkeluarga entahlah mungkin Jeng Marsih tidak ingin sendirian di rumah cucunya sudah ada lima orang, kebayang seberapa ramainya rumah jeng Marsih
Ia setiap hari berjualan makanan khas Jawa seperti semur, lodeh, garang asem, urap latoh, dan gudeg. Warga desa Grigih itu juga pernah beberapa kali mendapatkan menu pesanan makanan orang Cina baginya selagi ada contoh yang sudah ada ia tidak sungkan untuk meraciknya biasanya Jeng Marsih akan eksplor bumbu tambahan khasnya.
Sambil menunggu kabar dari papa, ternyata satu penggal paragraf pun tak juga datang. Hingga 6 jam berlalu, kabar itu tidak kunjung ada.
“Papa masih lama kerjanya, Ma.”
“Sabar, ya. Mungkin papa masih ada tambahan tugas kerja.”
Aku melihat bola-bola mata kecemasan di mata mamaku Aku hanya bisa mengelus punggung dan memeluknya.
Tak selang lama suara ketukan pintu terdengar cukup keras aku langsung menghampiri sumber suara itu
“Dengan ibu Nami?”
“Saya kebetulan anaknya, kenapa Pak polisi?
Seragam polisi itu nampak lusuh dan berlumuran darah. Mama yang sedang di belakang mendapatiku bercakap-cakap dengan bapak polisi itu, “Silakan masuk.”
Tidak bisa aku tepis rasa gundah dan cemas ini semua cerita yang terlontar membuat aliran darahku seakan memanas dan mendingin bersamaan, hingga foto yang ada dalam ponsel membuat mataku terbelalak “iii...i..itu, papa saya. Itu papa saya, Pak. Sekarang di mana dia?”
“Maaf Bu, kami harus menginformasikan bahwa atas nama bapak Liu Xian Wo atau Trias Sukitma tewas terkena bom akibat kerusuhan di dalam gedung," ujarnya.
Aku sangat terdekat aliran darahku mendidih bulir-bulir keringatku mengkumpul di dahi nafasku berdengung lebih cepat. Mengapa bom itu harus ada dan ayahku harus jadi korban yang tidak tahu apa-apa sementara ibu nafasnya keluh tatapannya kosong, ia mencoba membungkam tangisannya di depan dua laki-laki polisi itu namun apa yang iya sembunyikan tetap terlihat dari bibirnya yang begitu bergetar.
Dan alpukat itu. Ya, alpukat itu diberikan kepada Mama.
Alpukat kesukaanku. Papa sempat membelikan buah itu untukku, oh Tuhan. Ada apa ini. Alpukat yang disimpan papaku di balik saku celananya ketika lari menghindari kobaran api. Namun ia harus terpaksa terlahap amarah api, hangus bersama puing-puing gedung.
Dibalik air mata yang bercucuran aku berkata lirih, “Mengapa harus papa, Ma. Memang kenapa kalau kita China. Apa kita berbeda dengan yang lain?”
Namun, bibir mamaku tetap terkatup. Baginya, ambang waktu yang menyertakan kefanatikan dan kebenaran terlampau jauh untuk ia tempuh.

Gabung dalam percakapan